ALAMAT GEREJA

Jl. Semeru 30 | Jl. Arif Margono 18
Telp. (0341) 366099 | (0341) 361949 | Fax. (0341) 325597
Email: gkkkmalang@yahoo.com | Admin blog: gielmanogi@gmail.com


Selasa, 16 Juni 2015

Khotbah: Bertumbuh Bersama Dalam Pelayanan

Kisah Para Rasul 2: 41-47
Ringkasan Khotbah Pdt. Bambang Wijanto - Minggu, 24 Mei 2015

Dalam sebuah pelayanan, kita dapat melihat dan belajar pada pelayanan yang dilakukan oleh Jemaat mula-mula. Hal-hal yang perlu diperhatikan pelayanan adalah:

1. Sebuah pelayanan Kristen haruslah bersifat holistik. Artinya, bukan hanya sekedar
mengabarkan Injil, tetapi bagaimana Injil itu diberitakan dan menyentuh kehidupan orangorang yang dilayani.
Vishal Mangalwadi, seorang tokoh filsafat India yang mengabdikan diri pada Filsafat Kristen, seorang yang sangat pandai, dan banyak tawaran pekerjaan dari Negara Eropa dan Amerika dengan gaji yang sangat tinggi, memilih untuk kembali ke desa asalnya di India.
Vishal punya alasan yang kuat untuk hal ini. Semua itu bermula saat dia pergi ke Belanda untuk seminar dan kemudian diajak minum susu segar di sebuah peternakan. Dia sangat terkejut ternyata peternakan yang sangat besar itu bersih sekali walaupun tidak ada orang yang berjaga di situ. Dan lebih mengherankan setelah Vishal diajak untuk masuk dan minum susu yang diambil dari sebuah kran, kemudian temannya mengambil sebuah kotak yang berisi uang dan menyodorkan kepada Vishal, dan Vishal kemudian meletakkan sejumlah uang dan mengambil kembaliannya. Di tempat itu tidak ada seorang pun yang menjaga.
Sebagai seorang filsuf dia langsung berpikir ada sesuatu yang luar biasa, adanya kejujuran dan integritas membawa kesejahterahan bagi sekitarnya. Vishal berpikir, bagaimana mengentaskan kemiskinan dan mengubah kehidupan melalui sebuah integritas.Sebuah buku yang ditulis oleh Lim White Junior, yang dalam bukunya menanyakan kenapaEropa yang dulunya begitu miskin tetapi di abad 17-20 begitu maju.
Ternyata pada saat itu pendidikan di Eropa berbasis Alkitab dan mengajarkan tentang kejujuran dan integritas.Anak-anak diajarkan untuk berbagi, mengasihi,dan memiliki belas kasihan pada sesamanya serta memiliki sebuah kehidupan yang tidak berpusat untuk dirinya sendiri tapi juga bagi orang lain. Itulah yang membentuk pribadi dan karakter mereka.
Vishal kemudian kembali ke India dan mengajar masyarakat untuk menabung, hidup hemat. Dengan pengaruhnya sebagai orang Kristen dan melalui pendidikan, dia menanamkan nilai-nilai Kristen, kejujuran dan integritas kepada anak-anak.Dan hasilnya adalah desa itu menjadi desa yang makmur.Sudah ada universitas, rumah sakit,dan ada bank pasar dan derajat hidup mereka.
Pelayanan Kristen harusnya adalah sebuah pelayanan yang holistik.

2. Sebuah pelayanan harus bersifat transformatif.
DalamKis 2:47 “… Dan mereka disukai semua orang.” Kehidupan jemaat mula-mula menjadi inspirasi bagi orang lain, bahkan dirindukan oleh orang disekitarnya. Oleh sebab itu,Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan berlipat-lipat.
Kehadiran kita harus menjadi kehadiran yang berarti dan bukan kehadiran yang ditolak oleh orang lain. Seharusnya kehidupan kita menginspirasi orang lain. Kalau kehidupan kita tidak ada bedanya setelah menjadi Kristen, ya buat apa kita menyatakan diri sebagai murid Kristus. Kalau kita mengaku menjadi murid Kristus, maka kita harus meneladani Kristus.

3. Sebuah pelayanan harus membawa pertumbuhan bagi gereja.
Seluruh pelayanan gereja harus diarahkan untuk pertumbuhan jemaat. Bukan hanya pertumbuhan secara kualitas, tetapi juga pertumbuhan secara kuantitas. Bagaimana jemaat dapat bertumbuh secara kuantitas? Dalam sebuah buku “Missions Tomorrow” mengatakan demikian: orang-orang yang berhasil dalam memperluas Kekristenan tampaknya bukan mereka yang berprofesi sebagai penginjil ……. Melainkan laki-laki maupun wanita yang mempunyai pekerjaan atau mata pencaharian yang murni sekuler dan berbicara mengenai iman mereka kepada orang-orang yang dijumpainya sehari-hari.Artinya di situ ada sebuah komunitas.
Jika pelayanan gereja hanya menggantungkan kepada pendeta dan penginjil, maka gereja kita tidak akan maju. Dalam Kisah Rasul pada waktu ada pelayanan jemaat yang terlupakan, maka para rasul mengangkat 7 orang yang rohani untuk menangani masalah para janda miskin, supaya para hamba Tuhan dapat memfokuskan pada pelayanan Firman dan doa. Artinya peran jemaat sangat berpengaruh atas pertumbuhan gereja. Dengan adanya komunitas, kita bisa mendemostrasikan iman kita. Di BCS Jakarta, sekarang ada 600 anak muda. Bukan karena gerejas ebagai event organizer, bukan karena KKR, tapi karena komunitas yang bertumbuh. Ada kelompok-kelompok dengan kesamaan hobi, bukan hanya membicarakan hobi, tapi kemudian mengajak teman ke gereja, kemudian diajak untuk ikut melayani.
Jika gereja mau bertumbuh, maka jemaat memegang peranan sangat penting. Seorang teolog bernama Carl Henry mengatakan pendekatan dari pribadi ke pribadi yang diprakarsai oleh setiap orang percaya menciptakan peluang paling baik untuk memberitakan Injil ke seluruh bumi dalam abad ini. Melalui komunitas, kita bias memenangkan banyak jiwa.
Tiga pengalaman penting untuk bertumbuh menjadi orang Kristen yang matang menurut Dr. Gene Getz:
1. Mereka memerlukan ajaran Alkitab yang baik, akan member kestabilan teologis dan rohani.
2. Mereka memerlukan hubungan-hubungan yang mendalam dan memuaskan baik dengan satu sama lain maupun dengan Yesus Kristus
3. Mereka memerlukan pengalaman melihat orang banyak kepada Yesus Kristus sebagai hasil dari kesaksian korporat dan individual kepada dunia yang bukan Kristen Kalau kita mau mengukur kedewasaan rohani kita, maka tanyalah pada diri kita berapa banyakj iwa yang sudah kita bawa kepadaTuhan.

Mari di hari Pentakosta ini, kita bakar kembali semangat kita untuk memenangkan jiwa-jiwa yang ada di sekeliling kita, yang membutuhkan pertolongan Tuhan. Kiranya Tuhan Yesus memberkati.

Khotbah: Tuhan Menyertai Umat-Nya

Yohanes 14 : 6, 18, Matius1:28, 18:20, 28 : 20.
Ringkasan Khotbah Pdt. Stefanus Theofilus - Minggu, 07 Juni 2015

Perkataan Tuhan Yesus “Akulah jalan” berhubungan dengan beberapa perikop di dalam Injil yang berhubungan dengan konteks penyertaan Tuhan dalam kehidupan orang percaya. Mesias lahir untuk menyertai Umat-Nya (Mat 1:28), Tuhan Yesus menyertai para murid-murid (Mat 18:20), Yesus menyuruh murid-murid untuk pergi memberitakan Injil dan Ia akan menyertai (Mat 28:20) dan Tuhan Yesus akan mengirim penolong yang lain yaitu Roh Kudus untuk menyertai murid-murid ( Yoh 14:18 ). Tuhan Yesus menyertai dengan mengirim Roh Kudus. Oknum Roh Kudus sama secara kualitas dan derajat dengan Dia.
Lalu apa hubungan dengan Roh Kudus yang bertahta dengan penyertaan kepada orang percaya.? Secara umum manusia: Manusia memiliki keinginan yang dihubungkan dengan waktu (masa lampau, sekarang dan masa depan). Keinginan ini dikelompokkan ke dalam tiga bagian yaitu : Tahta (kuasa), Harta (uang) dan Wanita (seks). Dan tiga keinginan ini dimiliki semua manusia secara umum. Keinginan ini masuk ke dalam Hati nurani.
Apa itu Hati nurani? Dalam bahasa Yunani menggunakan kata suneidesis yang diartikan secara sederhana yaitu “Suara Allah.“ Dalam Kitab Roma, Paulus mengatakan karena suara Allah ini kita mengetahui mana yang benar dan salah, mana yang baik dan Jahat. Dalam hati kita ada Taurat Allah sehingga manusia tidak dapat berdalih bahwa dirinya bersalah. Semua manusia, tanpa terkecuali memiliki suara Allah ini. Hati nurani ini begitu indah karena melaluinya kita diajak untuk berbuat baik dan membuat hidup kita berarti. Bahkan dalam Alkitab mengatakan melalui nurani ini kita mengerti kehendak Allah.
Lalu apa hubungkan nurani dengan keinginan manusia? Nurani adalah penyaring bagi keinginan-keinginan tersebut. Keinginan (tahta, harta dan wanita) tidak berarti negatif karena ketika itu semua ada di dalam nurani, maka keinginan tersebut indah sekali. Kepala keluarga membutuhkan kuasa untuk melindungi, uang dibutuhkan manusia untuk sesuatu yang berarti dan baik, dan seks baik untuk hidup berkeluarga. Semua keinginan ini berarti ketika dimasukkan di dalam nurani.
Keinginan menjadi sesuatu yang indah, namun sayang manusia tidak mau berhenti sampai ini, ada sesuatu yang mengerikan yaitu keinginan yang berlebihan. Keinginan yang berlebihan membuat manusia menjadi serakah dan iri hati. Serakah dan iri hati membuat manusia menjadi berbahaya, kejam dan menjijikkan. Keinginan yang berlebihan membuat tahta, harta, dan wanita menjadi sesuatu yang berbahaya (negatif). Orang melakukan dan menghalalkan segala cara untuk memiliki kuasa, uang dan seks. Keinginan yang berlebihan membuat mereka menjadi pribadi yang buta dan tidak dapat terpuaskan dalam hidupnya. Kuasa, uang dan seks menjadi tujuan utama dalam hidupnya. Dalam Alkitab keinginan yang berlebihan ini disebut sebagai keinginan daging.
Keinginan yang berlebihan atau keinginan daging ini yang di dalam Alkitab disebut dosa. Dosa atau kata Yunaninya hamartia. Hamartia berarti tidak memenuhi standar dan sasaran yang diberikan Allah. Manusia meleset untuk memenuhi standar dan sasaran Allah karena mereka memiliki keinginan yang berlebihan dari yang ditentukan Allah. Kitab Ibrani mengatakan bahwa nurani mengajak kita untuk berbuat baik dan kekuatannya 100 persen, namun di satu sisi dalam kitab Roma mengatakan ada dosa yang mengajak manusia untuk berbuat dosa dan kekuatannya 100 persen. Jadi ada dua kekuatan dan keinginan di dalam diri yang baik dan jahat. Dua kekuatan ini yang membuat manusia mengalami perang batin di dalam hatinya. Perang batin antara saya dengan saya sehingga menimbulkan kekacauan dalam diri. Dan misalnya dalam peperangan itu kita melakukan dosa maka hal itu berhubungan dengan Allah. Kita tidak dapat lagi memenuhi standar dan sasaran Allah.
Kitab ibrani mengatakan ketika manusia melakukan dosa ada selaput yang menutup hati nurani kita. Kita ingin berbuat baik namun kekuatan untuk berbuat baik itu tidak kuat karena sudah ditutup oleh selaput. Jika manusia sekali berbuat dosa, maka ia akan mudah untuk melakukan dosa-dosa yang lain. Hati nurani pun terus ditutupi selaput sehingga hati nurani tidak lagi berbicara. Inilah yang terjadi kepada manusia yang terus hidup dalam dosa sehingga tidak terjadi lagi perang rohani. Dosa menjadi suatu kebiasaan dan menjadi sesuatu kenikmatan. Dosa menjadi kenikmatan karena manusia telah terikat oleh dosa itu, sehingga manusia tidak dapat untuk tidak melakukan dosa. Dosa menjadi sesuatu kebiasaan dan sesuatu mengerikan.
Lalu apa artinya Tuhan menyertai kita? Inilah yang berhubungan dengan hati nurani kita. Dia lahir di dalam hati nurani kita yang telah diselubungi oleh dosa. Yesus lahir di dalam hati nurani kita bukan karena dirinya bersih tapi karena kotor. Dari sinilah kita menemukan arti Tuhan menyertai kita dengan hati nurani kita yang terselubungi dengan dosa. Ada dua arti: pertama,pada saat kita meninggal. Pada waktu kita kita meninggal dunia, kita memiliki jaminan keselamatan bersama Allah, karena dalam perikop yang kita baca hari ini mengatakan “Akulah Jalan, kebenaran dan hidup.” Kita memiliki kepastian bahwa Yesus akan membawa manusia kepada Allah karena Dialah jalan satu- satunya, tidak ada yang lain. Kedua, pada saat kita hidup di dunia. Pada waktu kita terima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat maka darah-Nya telah menyucikan dan menghapus selaput dosa yang menutupi hati nurani kita. Darah ini membuat hati nurani kita kembali berbicara. Hati nurani kita menjadi kembali berperang secara rohani. Namun sekarang kita tidak lagi nyaman untuk melakukan dosa. Ketika kita berbuat dosa kita menjadi tersiksa. Peperangan ini disebut Yesus dalam khotbahnya bahwa hidup manusia seperti ada dua jalan yaitu lebar dan sempit. Dua jalan ini pada satu tempat yaitu dunia namun berlawanan arah. Oleh sebab itu jalan sempit dapat dikatakan sebagai jalan yang melawan arus. Orang percaya adalah orang yang melawan arus dunia yang ingin membawa manusia kepada dosa. Dunia menawarkan dosa kepada orang percaya dengan begitu kuat, mudah dan cepat (internet dan media masa). Orang percaya begitu berat untuk melawan arus ini. Orang percaya butuh kekuatan untuk melawan arus tersebut. Di sinilah peran Tuhan Yesus karena Ia jalan bukan hanya waktu kita meninggal namun Ia jalan ketika kita hidup di dalam dunia ini. Dia masuk ke dunia untuk menerobos arus dunia ini. Dia hadir untuk berperang melawan dunia ini.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Diam di dalam anugrah-Nya, tidak ada satupun yang kuat melawan arus dunia ini. Tuhan yang akan berperang bagi kita, dan Dia berkata; “Aku akan menyertai kamu.” Kita diam di dalam Dia, tidak ada cara lain. Tidak ada cara lain selain kita merenungkan Firman Tuhan dan berlutut di hadapan-Nya. Kita dapat melakukan kebaktian bersama keluarga setiap malam untuk merenungkan Firman dan berdoa kepada Tuhan. Orang percaya adalah orang yang mau diam di dalam Tuhan. Hanya anugrah dan kebaikan Tuhan yang membuat kita kuat untuk melawan dunia ini.

Selasa, 09 Juni 2015

Bertumbuh Bersama Dalam Pelayanan

Yohanes 4:1-15
Ringkasan Khotbah Ev. Yudi Jatmiko - Minggu, 31 Mei 2015

Salah satu cara terbaik untuk bertumbuh dalam pelayanan ialah dengan meneladani Tuhan Yesus dalam melayani sesama-Nya. Konteks perikop yang kita baca tadi menunjukkan bahwa Yesus dan murid-murid-Nya sedang berada di Yudea (Yoh. 3:22; 4:3). Untuk menuju Galilea, Yesus harus melintasi daerah Samaria (4:4) di mana Ia bertemu dengan seorang perempuan di kota Sikhar; perempuan Samaria dengan kebutuhan tertentu.

Pelayanan Tuhan Yesus: Memahami Kebutuhan Sesama
Untuk mengerti apa yang menjadi kebutuhan perempuan Samaria ini, kita perlu melihat lebih jauh apa saja yang menjadi masalahnya, minimal ada dua: masalah sosial (ay. 6-7) dan masalah moral atau spiritual (ay.16-18). Melalui dialog dan kehadiran-Nya (ay. 7-18), Tuhan Yesus menolong perempuan itu untuk memahami apa yang menjadi kebutuhannya yang paling dalam melalui kedua masalah di atas. Dua masalah ini tidak dialami oleh perempuan itu sesekali saja dalam hidupnya, melainkan terus-menerus. Ini dapat terlihat dari salah satu tensa Yunani yang digunakan pada ayat 15 (Present Infinitif Aktif). Gramatika Yunani di ayat tersebut mengindikasikan adanya sebuah continuous action. Dengan kata lain, perempuan itu memohon diberikan air hidup supaya ia “tidak haus terus-menerus dan tidak usaha datang dan datang lagi ke sumur itu untuk terus-menerus menimba air.”
Permintaan ini tentunya tidak lahir dari sikap yang malas tetapi dari hati yang sekian lama tertekan oleh beban sosial dan moral yang terus-menerus ditanggungnya. Ia hidup berkanjang dalam dosa. Oleh karena itu, suaranya lirih meminta kepada Yesus, “Tuhan, berikanlah aku air itu (ay.15)” dan Tuhan memenuhi kebutuhan terdalam perempuan itu.

Pelayanan Tuhan Yesus: Memenuhi Kebutuhan Sesama
Pelayanan Yesus adalah pelayanan yang memenuhi kebutuhan manusia berdosa. Menurut Yesus, kebutuhan terdalam perempuan itu hanya dapat dipenuhi oleh air hidup. Apa yang dimaksud Yesus dengan “air hidup”? Menurut bahasa aslinya, air hidup dapat juga diterjemahkan air yang mengalir untuk menunjukkan bahwa air ini bersih dan segar.
Dalam Perjanjian Lama, air hidup merupakan gambaran metafora yang merujuk kepada Diri Allah sendiri sebagai Sumber Kehidupan bagi bangsa Israel (bdk. Yer. 2:13; Za. 14:8). Artinya, hanya air hidup itulah yang dapat memuaskan kebutuhan terdalam manusia. Ini menjadi semakin jelas dalam Perjanjian Baru. Yohanes 7:37-39 menjelaskan bahwa yang dimaksud Tuhan Yesus dengan air hidup ialah Roh Kudus, Pribadi ketiga Allah Tritunggal. Ia adalah sumber kehidupan dan sumber pembaharu bagi manusia yang berdosa. Hanya Allah Roh Kudus, di dalam anugerah-Nya, yang mampu melahirbarukan perempuan yang berdosa itu dan mengubah hidupnya, dari seorang pendosa menjadi pemberita Injil bagi sesamanya (bdk. Yoh. 4:39-42).
Melalui narasi perjumpaan Tuhan Yesus dengan perempuan Samaria, kita dapat belajar bahwa melayani adalah menjawab dan memenuhi kebutuhan sesama kita. Melayani berarti menyentuh hati, menjangkau kehidupan yang terhilang dan terpinggirkan karena dosa. Melayani berarti memberi dampak bagi hidup sesama. Singkatnya, melayani adalah menghadirkan Kristus bagi sesama karena hanya Yesus di dalam kuasa Roh Kudus yang mampu memenuhi kebutuhan manusia berdosa. Inilah panggilan gereja, inilah panggilan setiap kita. Jika kita bertumbuh dalam pelayanan yang menghadirkan Tuhan Yesus, niscaya gereja menjadi berkat bagi masyarakat luas, bahkan bagi dunia.

Selasa, 09 Desember 2014

MINGGU ADVENT III - 14 DESEMBER 2014


Tema: "Great Joy for Mary"
Pembicara: Pdt. Richard Konieczny 


Kebaktian I, pkl. 06.00 wib, di Jl. Semeru 30
Kebaktian II, pk. 08.00 wib, di Jl. Arif Margono 18
Kebaktian III, pk. 10.30 wib, di Jl. Arif Margono 18
Kebaktian IV, pkl. 17.00 wib, di Jl. Semeru 30

Selasa, 23 September 2014

Artikel Keluarga: Ayah, Anak Laki-laki dan Arah

Ayah dan Arah
Pdt. Paul Gunadi

Ada satu pengamatan yang saya saksikan berulang kali dalam praktik konseling yang cukup menyedihkan hati, yakni anak laki-laki, yang dibesarkan dalam keluarga di mana keterlibatan ayah sangat minim, cenderung bertumbuh menjadi pemuda tanpa arah. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa ada kaitan yang erat antara keterlibatan ayah dan pertumbuhan kepribadian anak laki-laki. Saya perhatikan biasanya anak-anak seperti ini memperlihatkan beberapa ciri yang serupa misalnya, mereka memiliki banyak keraguan dan ketidakpastian dalam hidup. Mereka bersikap pasif dan menuntut orang untuk senantiasa memahami dan menyediakan kebutuhan mereka. Di dalam mengarungi kehidupan, biasanya mereka mencari-cari "sesuatu" sehingga apa pun yang mereka lakukan tidak akan mampu memberikan kepuasan yang sepenuhnya. Dengan kata lain, mereka adalah orang yang terus mencari tempat atau habitat mereka dalam hidup ini.
Semua anak-laki atau perempuan - membutuhkan ayah namun secara khusus anak laki-laki membutuhkan figur ayah untuk identifikasi. Saya jelaskan apa yang saya maksud dengan identifikasi. Pada umumnya kita menggunakan istilah identifikasi dalam pengertian bahwa kita melihat adanya persamaan antara yang dimiliki atau dialami seseorang dengan yang kita alami atau miliki. Misalnya, kita berkata bahwa kita dapat mengidentifikasi dengan perasaan seorang teman yang kehilangan pasangannya sebab kita pun pernah kehilangan pasangan kita. Namun sebenarnya Freud memperkenalkan istilah identifikasi bukan dengan pemahaman itu. Menurut Freud, identifikasi adalah menginternalisasikan kualitas yang ada pada orang lain ke dalam diri sendiri. Jadi, semakin dekat hubungan kita dengan seseorang dan semakin berpengaruh orang itu dalam hidup kita, semakin banyak sifat atau kualitasnya yang akan kita serap dan jadikan bagian diri kita.
Ayah dan ibu adalah objek identifikasi terdini dan terkuat. Mereka adalah pemasok bahan yang nantinya diinternalisasikan anak ke dalam dirinya. Semakin banyak interaksi orangtua dan anak, semakin banyak bahan dari orangtua yang akan diserap oleh anak. Bahan yang telah diserap ini kemudian menjadi bagian dari kepribadian anak itu. Sudah tentu di sini berlaku sebuah hukum alam: Bahan buruk akan masuk menjadi bagian yang buruk dari kepribadian anak sedangkan bahan baik akan masuk menjadi bagian yang baik dari kepribadian anak.
Salah satu bahan yang seharusnya diserap oleh anak ialah bahan yang berkaitan dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan. Dapat kita duga bahwa anak perempuan akan menyerap banyak dari ibu sedangkan anak laki akan menyerap dari ayah. Dari ayahlah anak laki-laki belajar menjadi seorang pria dan menjadi pria dalam kebanyakan budaya berarti menjadi seseorang yang tahu akan arah hidupnya, sebab bukankah pada akhirnya pria diharapkan mengepalai keluarganya sendiri?
Kira-kira seperti inilah prosesnya. Pada awalnya semua anak menginternalisasi dari ibu sebab ibulah yang berperan besar pada masa pertumbuhan awal. Dengan bertambahnya usia, anak laki-laki akan harus mengalihkan objek identifikasinya dari ibu ke ayah atas dasar persamaan jenis kelamin. (Sudah tentu anak perempuan tidak perlu mengubah objek identifikasinya.) Ketidakhadiran ayah dalam pertumbuhan anak laki-laki bukan saja akan menciptakan kevakuman objek identifikasi - dan inilah yang akan terus dicari oleh si anak sampai usia dewasanya - kevakuman ini juga telah menciptakan kekosongan arah hidup. Mereka tidak tahu bagaimana mengambil keputusan, tidak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan (sudah tentu mereka akan malu untuk mengakuinya), dan mereka memiliki seribu satu macam keraguan. Pada akhirnya ironi inilah yang saya lihat: Di belakang ayah-ayah yang terpuji dan terhormat terdapat anak laki-laki yang bingung dan penuh dengan ketidakpastian.
Kunci penyelesaian dari semua ini adalah keterlibatan. Saya perhatikan ada perbedaan antara ayah yang hanya berfungsi sebagai panutan peran (role-modes dan ayah yang terlibat dalam kehidupan anak laki-lakinya. Ayah yang indah tetapi tidak terlibat dalam kehidupan anak lakilakinya dapat diibaratkan seperti ikan hias di dalam akuarium - sedap dipandang namun sedikitpun tidak bersentuhan dengan kehidupan anaknya. Memang ayah yang seperti ini akan menjadi panutan peran yang positif namun masalahnya adalah, ayah ini tidak melakukan apaapa untuk menolong anak laki-lakinya menjadi seperti dirinya - mantap dan terarah - karena ia tidak cukup terlibat untuk menjadi penyedia bahan identifikasi bagi anak laki-lakinya.
Acapkali kehilangan keterlibatan ayah bukan saja menghasilkan pribadi yang terombang-ambing tanpa ayah tetapi juga menyulut kemarahan, yang biasanya muncul dalam bentuk pemberontakan atau apati. Mohon perhatikan perbandingan ini. Ada anak yang bertumbuh tanpa ayah karena ayah mereka telah meninggal dunia. Sudah tentu mereka akan mengalami kesedihan dan akan merindukan kehadiran ayah dalam hidup mereka. Namun jika situasinya adalah, mereka kehilangan ayah bukan karena kematian melainkan karena kesibukan atau kekurangpedulian, reaksi yang muncul bukan hanya rindu tetapi juga marah. Mereka marah karena mereka melihat bahwa sebenarnya ayah bisa memberikan perhatian namun tidak mau atau tidak cukup peduli. Di pihak lain, mereka merindukan ayah dan mungkin ingin menjadi seperti ayah namun tidak mampu. Alhasil, kemarahan dan kerinduan bercampur dalam diri anak menciptakan konflik internal yang tak terselesaikan.
Amsal menyajikan sebuah skenario yang indah mengenai hubungan ayah-anak dan hikmat, "Dengarkanlah hai anak-anak didikan seorang ayah dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, ... Karena ketika aku masih tinggal di rumah ayahku sebagai anak ... aku diajari ayahku, katanya kepadaku, 'Biarlah hatimu memegang perkataanku; berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup." (4:1-4)
"Diajari ayahku." Betapa indah dan akrab, namun tampaknya itulah yang sekarang telah terhilang.




Artikel Keluarga: Mengecek Kesehatan Pernikahan

Mengecek Kesehatan Pernikahan
Pdt. Paul Gunadi

Memasuki usia paro-baya ini saya semakin disadarkan akan pentingnya bertubuh sehat. Untuk itu secara rutin saya mengecek kesehatan melalui tes darah dan sebagainya. Pernikahan pun memerlukan uji kesehatan. Ada baiknya secara berkala kita memeriksa kondisi pernikahan kita dan dengan jujur melihat keadaan sesungguhnya. Ingat, pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Pada kesempatan ini saya ingin membagikan dua indikator untuk menguji kesehatan pernikahan kita.
Pertama, pernikahan yang sehat akan membuat kita menjadi individu yang lebih sehat. Saya teringat akan komentar orang tentang Warren Bennis, seorang pakar kepemimpinan di Amerika Serikat, "Bekerja dengan Warren Bennis merupakan sebuah pengalaman yang transformatif. Saudara tidak akan menjadi orang yang sama - sebelum dan sesudahnya. Sesuatu terjadi pada diri Saudara - Ia membuat orang menjadi versi baru yang lebih baik daripada sebelumnya." Pernikahan mentransformasi kita; masalahnya ialah, apakah kita menjadi orang yang lebih baik atau sebaliknya, menjadi orang yang lebih buruk, setelah menikah.
Saya menyadari ada orang yang justru bertumbuh matang karena menjalani pernikahan yang buruk. Sebetulnya, kita bertumbuh matang bukan karena pernikahan yang buruk itu. Dalam anugerah Tuhan, Ia membentuk kita menjadi individu yang tangguh agar kita kuat melewati hari-hari pernikahan kita yang menyakitkan itu. Meski buah roh seperti kesabaran dan penguasaan diri muncul di tengah pengalaman yang tidak menyenangkan itu, namun menurut saya, sesungguhnya semua perubahan karakter itu terjadi agar kita sanggup mengatasi situasi hidup yang buruk itu.
Pernikahan yang sehat menghasilkan pribadi yang sehat pula - bahkan lebih sehat dari sebelumnya - dan perubahan karakter terjadi bukanlah untuk menambah kesanggupan kita melewati situasi kehidupan yang sulit, sebagaimana yang terjadi dalam pernikahan yang buruk. Di dalam pernikahan yang buruk, kita mengalami tempaan tanpa memperoleh imbalan dari pernikahan itu sendiri. Misalnya, kita terpaksa mengalah dan menyerah karena itulah satu-satunya pilihan yang tersedia. Namun, mengalah dan menyerah tidaklah membuat kita menerima perlakuan yang membangun dari pasangan kita. Kemungkinan besar, mengalah dan menyerah hanyalah upaya untuk menyelamatkan pernikahan atau diri kita dari kehancuran yang lebih dahsyat.
Sebaliknya, di dalam pernikahan yang sehat, kita mengalami tempaan karakter disertai imbalannya. Ada waktu tertentu kita mengalah (bukan menyerah) dan sebagai imbalannya, pasangan kita memuji atau mengagumi perbuatan kita. Atau, ia malah terdorong untuk turut mengalah sehingga pada akhirnya, kerelaan untuk mengalah dan mengutamakan kepentingan bersama menjadi sesuatu yang alamiah untuk dilakukan. benar-benar sebuah imbalan yang tak ternilai! Alhasil, transformasi karakter tercipta dan kita menjadi versi yang lebih baik dari sebelumnya. Ini indikator pertama untuk mengecek apakah kita mempunyai pernikahan yang baik.
Kedua, pernikahan yang sehat adalah pernikahan yang swasembada - mendapatkan kecukupan berkat usaha sendiri. Ada satu kutipan dari Nathanael Hawthorne yang menyentuh hati saya, "Ia (she) adalah satu-satunya orang di dunia ini yang saya perlukan." Pernikahan yang sehat membuat kita menjadi orang yang berorientasi ke dalam perkawinan sendiri. Kita tidak perlu keluar mencari-cari pemenuhan kebutuhan kita sebab kita sudah dan bisa memperolehnya dari pasangan sendiri.
Sebaliknya dengan pernikahan yang buruk. Di dalam pernikahan ini kita merasakan kehampaan dan kita tidak dapat bergantung pada pasangan kita untuk memenuhi kebutuhan kita. (Bukankah acap kali dia adalah bagian atau bahkan penyebab dari kehampaan itu?) Akibatnya, kita tergoda menoleh keluar untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan kita melalui berbagai cara, dari yang relatif sehat sampai yang tidak sehat dan berdosa, seperti bekerja, kegiatan pelayanan, curhat dengan teman, berselingkuh, dan sebagainya. Itu sebabnya, saya mengamati pernikahan yang tidak sehat sangat memerlukan topangan dari orang atau unsur lain. Tanpa topangan yang lain, niscaya runtuhlah pernikahan itu.
Saya menyadari bahwa tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi oleh pasangan kita dan seyogianyalah kita bersikap realistik akan hal ini. Namun, saya berkeyakinan, dengan berjalannya waktu (Ingat, semua ini tidak terjadi dalam sekejap!), pernikahan yang sehat akan mengubah kita menjadi lebih terampil memenuhi kebutuhan pasangan kita. Dengan kata lain, semakin lama kita menikah, seharusnya semakin cekatan kita memenuhi kebutuhan masing-masing dan semakin kecil kebutuhan yang harus dipenuhi oleh unsur-unsur luar.
Saya berharap Saudara dapat memanfaatkan dua uji kesehatan ini. Duduklah bersama dan bicarakanlah dengan pasangan masing-masing. Nilai yang tinggi akan membuat kita makin bersemangat memelihara pernikahan kita. Nilai yang rendah seharusnya membuat kita prihatin dan tergerak untuk memperbaharui pernikahan kita.






Senin, 09 Juni 2014

Ringkasan Khotbah Pdt. Tikijo Hardjowono, "Penatalayan Yang Diperkenan Tuhan: Iman dan Uang" - Minggu, 01 Juni 2014

PENATALAYAN YANG DIPERKENAN TUHAN: IMAN dan UANG
Memahami Prinsip-prinsip Allah dalam Penatalayanan Keuangan

LUKAS 16:1-14

Ringkasan Khotbah Pdt. Tikijo Hardjowono - Minggu, 01 Juni 2014

Dalam konsep penatalayanan (1 Kor.4:1,2) kita telah belajar bahwa Tuhan adalah Sang Pemilik; sedangkan kita hanyalah penatalayan milik Tuhan. Sebagai pelayan, kita harus setia (1Kor.4:2). Saat kita setia kita akan mendapat keuntungan: kita akan bertumbuh lebih dekat dengan TUHAN, bertumbuh dalam karakter ilahi, dan kita akan memiliki stabilitas hidup yang lebih stabil, dan kelak kita akan menerima upah yang kekal di sorga.
Salah satu yang harus kita jaga sebagai penatalayan adalah harta/uang. Alkitab mencatat banyak tentang uang: lebih dari 2.350 ayat yang berurusan dengan uang; Yesus mengajar sangat banyak tentang keuangan,  16 dari 28 perumpamaan-Nya tentang uang. Yesus mengajarkan bahwa uang adalah saingan terkuat bagi Kristus untuk Ketuhanan-Nya dalam hidup kita (Luk.16:13). Dia juga mengingatkan: “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Mat.6:21)
Dalam perumpamaan tentang “bendahara yang tidak jujur” (Luk.16:1-9). Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid untuk bersikap cerdik, menggunakan uang (mamon yang tidak jujur) untuk melakukan semua yang mungkin selagi ada kesempatan untuk memuliakan Tuhan (menukar dengan harta abadi), supaya sewaktu-waktu uang tidak bisa digunakan lagi (maksudnya kita sudah mati) sudah ada bagi kita upah yang kekal di sorga.

PRINSIP KEUANGAN JOHN WESLEY
John Wesley lahir di Epworth, 17 Juni 1703, dan meninggal di London, 2 Maret 1791. Dia adalah anak pendeta yang miskin. Bersama 8 saudaranya dia mengalami masa kecil yang sangat sulit.Tetapi Tuhan memanggilnya menjadi pendeta juga. Dan berbeda dengan ayahnya dia menjadi pendeta yang cukup berada karena dia seorang yang pandai. Dia mengajar di Oxford, menjadi anggota Lincoln Collage yang terhormat, dan semuanya itu membuat dia mempunyai cukup uang untuk bersenang-senang.
Suatu kali, di hari yang bersalju Wesley membeli sebuah karya seni yang mahal dan menggantungkannya di kantornya. Baru saja dia selesai memasang karya seni itu, masuklah ibu yang bertugas membersihkan kantornya dengan kedinginan, dan dia hanya memakai pakaian katun biasa. Segera Wesley merogoh kantungnya untuk mengambil uang supaya ibu itu bisa membeli baju hangat yang selayaknya.  Tetapi Wesley sangat terkejut, dia tidak mempunyai uang yang cukup! Terlintas dipikirannya: “Kalau saat ini Tuhan memanggilku pulang ke sorga, apakah aku ini seorang hamba yang baik dan setia?”
Sejak itu, mulai tahun 1731, Wesley menghitung dengan baik kebutuhannya. Dia mendapati bahwa kebutuhan hidupnya adalah 28 poundsterling setiap tahun. Maka ketika dia menerima tunjangan 30 pound, dia persembahkan 2 pound untuk pekerjaan Tuhan. Ketika dia menerima 60 pound, dia serahkan 32 pound. Ketika dia menerima 90 pound, dia serahkan 72 pound dan seterusnya. Bagi Wesley bertambahnya berkat Tuhan berarti bertambahnya apayang bisa dia berikan untuk Tuhan. Ketika dia kemudian mendapat tunjangan lebih dari 1400 pound/tahun, dia tetap hidup dengan standart 30 pound/tahun dan memberikan hampir 1400 pound untuk pekerjaan Tuhan. Inilah ajaran tentang penatalayanan keuangan Wesley yang terkenal: “Gain all you can, Save all you can, Give all you can.”
Gain all you can (Raihlah semua yang dapat kau raih). Orang percaya harus rajin, bekerja dengan giat dan semangat untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Namun dia harus jujur dan menolak mengerjakan apa yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Sekalipun bisa disalahgunakan, uang adalah sesuatu yang berguna. “Di tangan anak-anak Tuhan itu (uang) adalah makanan bagi yang lapar, minuman bagi yang haus, pakaian bagi yang telanjang. Uang bisa memberikan tumpangan bagi pengembara, bisa menggantikan apa yang seharusnya diberikan ayah pada anak yatim, apa seharusnya diberikan suami bagi seorang janda, menjadi perlindungan bagi yang tertindas, kesembuhan bagi yang sakit, kelegaan bagi yang menderita. Itu bisa berarti mata bagi yang buta, kaki bagi yang lumpuh; ya, sebagai alat pengangkat keluar dari gerbang kematian.”
Save all you can (Tabunglah semua yang dapat kau tabung). Setelah mendapat banyak, orang percaya harus menjauhkan uangnya dari pemuasan nafsu kedagingan. Wesley punya dua alasan untuk hidup sederhana. Yang pertama supaya mereka tidak menyia-nyiakan uangnya, yang kedua supaya mereka tidak terjebak oleh nafsu. Wesley menasehati jemaat untuk menjaga anak-anak mereka juga dari pemuasan keinginan yang akan membuat anak mereka menderita.
Give all you can (Berilah semua yang dapat kau beri). Semua yang kita miliki adalah milik Tuhan, orang percaya harus memakai 100% uangnya (bukan hanya 10%) sesuai dengan kehendak Tuhan. Dan bagaimana Tuhan mengarahkan kita dalam memakai uang kita?
Wesley mengajarkan empat prinsip firman Tuhan untuk menuntun kita menjadi penatalayan keuangan yang baik bagi Tuhan: 1. Sediakan apa yang perlu bagi dirimu dan keluargamu (1 Tim. 5:8). Wesley sangat menekankan keluarga, menjagai keamanannya, termasuk menyediakan asuransi/tabungan untuk berjaga-jaga terhadap keadaan buruk yang bisa menimpa sang pencari nafkah (the breadwinner); 2. “ Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (1 Tim. 6:8). Termasuk di dalamnya rumah yang layak untuk melindungi keluarga dari hujan dan panas; 3. “Lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!” (Rom. 12:17) dan “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga” (Rom. 13:8); 4. “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Gal.6:10).
Wesley menyadari banyak situasi yang tidak sangat jelas. Bisa membingungkan dalam menerapkan keempat prinsip Firman Tuhan diatas. Dia memberikan empat pertanyaan untuk menolong kita memutuskan bagaimana membelanjakan uang: 1. Dalam membelanjakan uang, apakah saya bertindak seperti pemiliknya, ataukah saya bertindak sebagai bendahara Tuhan?; 2. Apa dasar Alkitab bagi saya untuk membelanjakan uang seperti ini?; 3. Dapatkah saya mempersembahkan barang pembelian ini sebagai korban bagi Tuhan?; 4. Apakah Tuhan akan memberiku pahala untuk pembelanjaan ini pada hari kebangkitan orang-orang benar?
Berikanlah semua yang kau punya, juga dirimu sendiri, sebagai sebuah korban rohani bagi Dia yang tidak menyayangkan Putra-Nya (untuk mati) bagimu, Anaknya yang tunggal itu. Jadi “letakkanlah bagi dirimu sendiri dasar yang baik untuk menghadapi masa yang akan datang, sehingga engkau beroleh hidup yang kekal!” (John Wesley)





Warta Jemaat dan Komisi - Minggu, 08 Juni 2014

PENEGUHAN NIKAH
Majelis Jemaat GKKK Malang akan menyelenggarakan Peneguhan Nikah Gerejawi bagi:
Sdr. Imam Hidayat  dengan Sdri. Sherly
Yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 14 Juni 2014,  Pk. 11.00  wib, dilayani oleh Pdt. Tikijo Hardjowono,di Restoran Va Benne, Jl. Raya Langsep 10 Malang. Seluruh jemaat dimohon mendukung dalam doa bagi persiapannya. Bagi jemaat yang menaruh keberatan atas pemberkatan tersebut dapat menulis surat secara resmi kepada Majelis.


KOMISI BEA SISWA AGAPE
Komisi Bea Siswa Agape membuka Pendaftaran bagi anggota baru dan Daftar Ulang bagi anggota lama. Formulir dapat diambil  setiap hari pada jam kerja di TU Gereja, batas pengembalian formulir terakhir tanggal 22 Juni 2014.


PEMBERITA FIRMAN TUHAN
Kebaktian Umum: Minggu, 15 Juni 2014 - Ev. Esther Gunawan
Kebaktian Doa: Selasa, 17 Juni 2014 - Ev. Esther Gunawan


PERSEKUTUAN WILAYAH
Wilayah Kana
Hari/Tanggal    : Kamis, 12 Juni 2014
Tempat              : Ibu Sriatun, Kebalen Wetan Gg. 4
Waktu                : 18.00 Wib
Pembicara        : Ev. Conny Benyamin

Wilayah Emaus
Hari/Tanggal    : Rabu, 11 Juni 2014
Tempat              : Rumah Bp. Andre Susilo/Ibu Patma, Villa Puncak Tidar Blok I/3
Waktu                : 19.00 Wib
Pembicara        : Pdt. Tikijo Hardjowono

Bagi Bapak/Ibu yang bertempat tinggal disekitar wilayah tersebut diatas diundang untuk dapat menghadiri persekutuan wilayah pada jadwal tersebut di atas


BERITA DUKA
Telah pulang ke rumah Bapa di Surga :
Nama                 : Bp. Didik anak dari Ibu Rukmi Hartatik, Jl. Perkutut Utara
Hari/Tanggal    : Selasa, 03 Juni 2014
Dimakamkan    : TPU Mergan

Nama                 : Njoo Lian Nio/Ny. Janda Oei Poo Tjwan (Ibu dari Ev. Martha Liem)
Hari/Tanggal    : Sabtu, 31 Mei 2014
Disemayamkan       : Di Rumah Duka Rukun Sejati, Jl. Adi Sucipta, Tulung Agung
Dimakamkan    : Senin, 2 Juni 2014 Pk. 08.00
                              di Pemakaman Gunung Boloo, Tulung Agung

Keluarga besar GKKK Malang ikut berduka, kiranya Tuhan Yesus memberikan kekuatan dan perhiburan kepada seluruh keluarga.


WARTA KOMISI
KOMISI USIA INDAH
Rabu, 11 Juni 2014, Pk. 09.00 WIB,
Tema: “Akulah Jalan Dan Kebenaran Dan Hidup
Pembicara: Ev. Dyah Pamitra

KOMISI WANITA
Jumat, 13 Juni 2014, Pk. 17.30 WIB,
Tema: “Allah Disini, Di Saat Anda Terluka”
Pembicara: Sdri. Alice Lio

KOMISI PEMUDA
Sabtu, 14 Juni 2014, Pk. 18.00 WIB,
Tema: “Kemurahan
Pembicara: Ev. Yudi Jatmiko

KOMISI REMAJA
Minggu, 15 Juni 2014, Pk. 08.00 WIB,
Tema: “Mengenal dan Dikenal”
Pembicara: Ev. Yudi Jatmiko

KOMISI SEKOLAH MINGGU
Minggu, 15 Juni 2014
Pkl. 08.15 wib : untuk anak-anak Sekolah Minggu, kelas 2 – 6 SD
Tema: Melindungi Anak-anak dari Pelecehan Seksual
Pembicara: Ev. Esther Tjahya
Tempat: Ruang Kelas Sekolah Minggu

Pkl. 10.00 wib: untuk orangtua
Tema: Melindungi Anak-anak dari Pelecehan Seksual
Pembicara: Ev. Esther Tjahya
Tempat: Aula Andrew Gih



Sabtu, 17 Mei 2014

Warta Pos - Minggu, 18 Mei 2014



GKKK TUNJUNG SEKAR DAMAI
Tempat Ibadah: Minggu, pk. 08.00 wib
AULA “CHARIS” SATI - Jl. Raya Karanglo 94 - 103

KEBAKTIAN UMUM:
Minggu, 18 Mei 2014
Pembicara: Bp. Hendrik Sianturi
Tema: Penatalayan Yang Diperkenan Tuhan

Minggu, 25 Mei 2014
Pembicara: Pdt. Titus Liem
Tema: Penatalayan Yang Dikenan Tuhan



KEBAKTIAN DOA
Selasa, 20 Mei 2014
Pembicara: Ev. Frans Edward
Tema: Janganlah Membawa Kami Ke Dalam Pencobaan

Selasa, 27 Mei 2014
Pembicara: Pdt. Titus Liem
Tema: Lepaskanlah kami dari yang jahat


GKKK TEBO
Jadwal Ibadah: Minggu, pk. 17.00 wib
CHAPEL STAN - Jl. Bandulan Barat 332

KEBAKTIAN UMUM:
Minggu, 18 Mei 2014
Pembicara: Ev. Matius Siswanto
Tema: Penatalayan Yang Diperkenan Tuhan

Minggu, 25 Mei 2014
Pembicara: Ev. Dyah Pamitra
Tema: Penatalayan Yang Diperkenan Tuhan



KEBAKTIAN DOA
Selasa, 20 Mei 2014
Pembicara: Ev. Happy Marhein
Tema: Sharing

Selasa, 27 Mei 2014
Pembicara: Sdr. Rud D.
Tema: Doa dan Penyembahan


GKKK BATU
Jadwal Ibadah: Minggu, pk. 17.00 wib
VILLA MONROE - Jl. Trunojoyo 26 Batu

KEBAKTIAN UMUM:
Minggu, 18 Mei 2014
Pembicara: Bp. Suminto
Tema: Penatalayan Yang Diperkenan Tuhan

Minggu, 25 Mei 2014
Pembicara: Ev. Matius Siswanto
Tema: Penatalayan Yang Diperkenan Tuhan


KEBAKTIAN DOA
Selasa, 20 Mei 2014
Pembicara: Bp. Suminto
Tema: Doa dan Pujian

Selasa, 27 Mei 2014
Pembicara: Bp. Suminto
Tema: Doa dan Pujian