ALAMAT GEREJA

Jl. Semeru 30 | Jl. Arif Margono 18
Telp. (0341) 366099 | (0341) 361949 | Fax. (0341) 325597
Email: gkkkmalang@yahoo.com | Admin blog: gielmanogi@gmail.com


Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 September 2014

Artikel Keluarga: Ayah, Anak Laki-laki dan Arah

Ayah dan Arah
Pdt. Paul Gunadi

Ada satu pengamatan yang saya saksikan berulang kali dalam praktik konseling yang cukup menyedihkan hati, yakni anak laki-laki, yang dibesarkan dalam keluarga di mana keterlibatan ayah sangat minim, cenderung bertumbuh menjadi pemuda tanpa arah. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa ada kaitan yang erat antara keterlibatan ayah dan pertumbuhan kepribadian anak laki-laki. Saya perhatikan biasanya anak-anak seperti ini memperlihatkan beberapa ciri yang serupa misalnya, mereka memiliki banyak keraguan dan ketidakpastian dalam hidup. Mereka bersikap pasif dan menuntut orang untuk senantiasa memahami dan menyediakan kebutuhan mereka. Di dalam mengarungi kehidupan, biasanya mereka mencari-cari "sesuatu" sehingga apa pun yang mereka lakukan tidak akan mampu memberikan kepuasan yang sepenuhnya. Dengan kata lain, mereka adalah orang yang terus mencari tempat atau habitat mereka dalam hidup ini.
Semua anak-laki atau perempuan - membutuhkan ayah namun secara khusus anak laki-laki membutuhkan figur ayah untuk identifikasi. Saya jelaskan apa yang saya maksud dengan identifikasi. Pada umumnya kita menggunakan istilah identifikasi dalam pengertian bahwa kita melihat adanya persamaan antara yang dimiliki atau dialami seseorang dengan yang kita alami atau miliki. Misalnya, kita berkata bahwa kita dapat mengidentifikasi dengan perasaan seorang teman yang kehilangan pasangannya sebab kita pun pernah kehilangan pasangan kita. Namun sebenarnya Freud memperkenalkan istilah identifikasi bukan dengan pemahaman itu. Menurut Freud, identifikasi adalah menginternalisasikan kualitas yang ada pada orang lain ke dalam diri sendiri. Jadi, semakin dekat hubungan kita dengan seseorang dan semakin berpengaruh orang itu dalam hidup kita, semakin banyak sifat atau kualitasnya yang akan kita serap dan jadikan bagian diri kita.
Ayah dan ibu adalah objek identifikasi terdini dan terkuat. Mereka adalah pemasok bahan yang nantinya diinternalisasikan anak ke dalam dirinya. Semakin banyak interaksi orangtua dan anak, semakin banyak bahan dari orangtua yang akan diserap oleh anak. Bahan yang telah diserap ini kemudian menjadi bagian dari kepribadian anak itu. Sudah tentu di sini berlaku sebuah hukum alam: Bahan buruk akan masuk menjadi bagian yang buruk dari kepribadian anak sedangkan bahan baik akan masuk menjadi bagian yang baik dari kepribadian anak.
Salah satu bahan yang seharusnya diserap oleh anak ialah bahan yang berkaitan dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan. Dapat kita duga bahwa anak perempuan akan menyerap banyak dari ibu sedangkan anak laki akan menyerap dari ayah. Dari ayahlah anak laki-laki belajar menjadi seorang pria dan menjadi pria dalam kebanyakan budaya berarti menjadi seseorang yang tahu akan arah hidupnya, sebab bukankah pada akhirnya pria diharapkan mengepalai keluarganya sendiri?
Kira-kira seperti inilah prosesnya. Pada awalnya semua anak menginternalisasi dari ibu sebab ibulah yang berperan besar pada masa pertumbuhan awal. Dengan bertambahnya usia, anak laki-laki akan harus mengalihkan objek identifikasinya dari ibu ke ayah atas dasar persamaan jenis kelamin. (Sudah tentu anak perempuan tidak perlu mengubah objek identifikasinya.) Ketidakhadiran ayah dalam pertumbuhan anak laki-laki bukan saja akan menciptakan kevakuman objek identifikasi - dan inilah yang akan terus dicari oleh si anak sampai usia dewasanya - kevakuman ini juga telah menciptakan kekosongan arah hidup. Mereka tidak tahu bagaimana mengambil keputusan, tidak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan (sudah tentu mereka akan malu untuk mengakuinya), dan mereka memiliki seribu satu macam keraguan. Pada akhirnya ironi inilah yang saya lihat: Di belakang ayah-ayah yang terpuji dan terhormat terdapat anak laki-laki yang bingung dan penuh dengan ketidakpastian.
Kunci penyelesaian dari semua ini adalah keterlibatan. Saya perhatikan ada perbedaan antara ayah yang hanya berfungsi sebagai panutan peran (role-modes dan ayah yang terlibat dalam kehidupan anak laki-lakinya. Ayah yang indah tetapi tidak terlibat dalam kehidupan anak lakilakinya dapat diibaratkan seperti ikan hias di dalam akuarium - sedap dipandang namun sedikitpun tidak bersentuhan dengan kehidupan anaknya. Memang ayah yang seperti ini akan menjadi panutan peran yang positif namun masalahnya adalah, ayah ini tidak melakukan apaapa untuk menolong anak laki-lakinya menjadi seperti dirinya - mantap dan terarah - karena ia tidak cukup terlibat untuk menjadi penyedia bahan identifikasi bagi anak laki-lakinya.
Acapkali kehilangan keterlibatan ayah bukan saja menghasilkan pribadi yang terombang-ambing tanpa ayah tetapi juga menyulut kemarahan, yang biasanya muncul dalam bentuk pemberontakan atau apati. Mohon perhatikan perbandingan ini. Ada anak yang bertumbuh tanpa ayah karena ayah mereka telah meninggal dunia. Sudah tentu mereka akan mengalami kesedihan dan akan merindukan kehadiran ayah dalam hidup mereka. Namun jika situasinya adalah, mereka kehilangan ayah bukan karena kematian melainkan karena kesibukan atau kekurangpedulian, reaksi yang muncul bukan hanya rindu tetapi juga marah. Mereka marah karena mereka melihat bahwa sebenarnya ayah bisa memberikan perhatian namun tidak mau atau tidak cukup peduli. Di pihak lain, mereka merindukan ayah dan mungkin ingin menjadi seperti ayah namun tidak mampu. Alhasil, kemarahan dan kerinduan bercampur dalam diri anak menciptakan konflik internal yang tak terselesaikan.
Amsal menyajikan sebuah skenario yang indah mengenai hubungan ayah-anak dan hikmat, "Dengarkanlah hai anak-anak didikan seorang ayah dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, ... Karena ketika aku masih tinggal di rumah ayahku sebagai anak ... aku diajari ayahku, katanya kepadaku, 'Biarlah hatimu memegang perkataanku; berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup." (4:1-4)
"Diajari ayahku." Betapa indah dan akrab, namun tampaknya itulah yang sekarang telah terhilang.




Artikel Keluarga: Mengecek Kesehatan Pernikahan

Mengecek Kesehatan Pernikahan
Pdt. Paul Gunadi

Memasuki usia paro-baya ini saya semakin disadarkan akan pentingnya bertubuh sehat. Untuk itu secara rutin saya mengecek kesehatan melalui tes darah dan sebagainya. Pernikahan pun memerlukan uji kesehatan. Ada baiknya secara berkala kita memeriksa kondisi pernikahan kita dan dengan jujur melihat keadaan sesungguhnya. Ingat, pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Pada kesempatan ini saya ingin membagikan dua indikator untuk menguji kesehatan pernikahan kita.
Pertama, pernikahan yang sehat akan membuat kita menjadi individu yang lebih sehat. Saya teringat akan komentar orang tentang Warren Bennis, seorang pakar kepemimpinan di Amerika Serikat, "Bekerja dengan Warren Bennis merupakan sebuah pengalaman yang transformatif. Saudara tidak akan menjadi orang yang sama - sebelum dan sesudahnya. Sesuatu terjadi pada diri Saudara - Ia membuat orang menjadi versi baru yang lebih baik daripada sebelumnya." Pernikahan mentransformasi kita; masalahnya ialah, apakah kita menjadi orang yang lebih baik atau sebaliknya, menjadi orang yang lebih buruk, setelah menikah.
Saya menyadari ada orang yang justru bertumbuh matang karena menjalani pernikahan yang buruk. Sebetulnya, kita bertumbuh matang bukan karena pernikahan yang buruk itu. Dalam anugerah Tuhan, Ia membentuk kita menjadi individu yang tangguh agar kita kuat melewati hari-hari pernikahan kita yang menyakitkan itu. Meski buah roh seperti kesabaran dan penguasaan diri muncul di tengah pengalaman yang tidak menyenangkan itu, namun menurut saya, sesungguhnya semua perubahan karakter itu terjadi agar kita sanggup mengatasi situasi hidup yang buruk itu.
Pernikahan yang sehat menghasilkan pribadi yang sehat pula - bahkan lebih sehat dari sebelumnya - dan perubahan karakter terjadi bukanlah untuk menambah kesanggupan kita melewati situasi kehidupan yang sulit, sebagaimana yang terjadi dalam pernikahan yang buruk. Di dalam pernikahan yang buruk, kita mengalami tempaan tanpa memperoleh imbalan dari pernikahan itu sendiri. Misalnya, kita terpaksa mengalah dan menyerah karena itulah satu-satunya pilihan yang tersedia. Namun, mengalah dan menyerah tidaklah membuat kita menerima perlakuan yang membangun dari pasangan kita. Kemungkinan besar, mengalah dan menyerah hanyalah upaya untuk menyelamatkan pernikahan atau diri kita dari kehancuran yang lebih dahsyat.
Sebaliknya, di dalam pernikahan yang sehat, kita mengalami tempaan karakter disertai imbalannya. Ada waktu tertentu kita mengalah (bukan menyerah) dan sebagai imbalannya, pasangan kita memuji atau mengagumi perbuatan kita. Atau, ia malah terdorong untuk turut mengalah sehingga pada akhirnya, kerelaan untuk mengalah dan mengutamakan kepentingan bersama menjadi sesuatu yang alamiah untuk dilakukan. benar-benar sebuah imbalan yang tak ternilai! Alhasil, transformasi karakter tercipta dan kita menjadi versi yang lebih baik dari sebelumnya. Ini indikator pertama untuk mengecek apakah kita mempunyai pernikahan yang baik.
Kedua, pernikahan yang sehat adalah pernikahan yang swasembada - mendapatkan kecukupan berkat usaha sendiri. Ada satu kutipan dari Nathanael Hawthorne yang menyentuh hati saya, "Ia (she) adalah satu-satunya orang di dunia ini yang saya perlukan." Pernikahan yang sehat membuat kita menjadi orang yang berorientasi ke dalam perkawinan sendiri. Kita tidak perlu keluar mencari-cari pemenuhan kebutuhan kita sebab kita sudah dan bisa memperolehnya dari pasangan sendiri.
Sebaliknya dengan pernikahan yang buruk. Di dalam pernikahan ini kita merasakan kehampaan dan kita tidak dapat bergantung pada pasangan kita untuk memenuhi kebutuhan kita. (Bukankah acap kali dia adalah bagian atau bahkan penyebab dari kehampaan itu?) Akibatnya, kita tergoda menoleh keluar untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan kita melalui berbagai cara, dari yang relatif sehat sampai yang tidak sehat dan berdosa, seperti bekerja, kegiatan pelayanan, curhat dengan teman, berselingkuh, dan sebagainya. Itu sebabnya, saya mengamati pernikahan yang tidak sehat sangat memerlukan topangan dari orang atau unsur lain. Tanpa topangan yang lain, niscaya runtuhlah pernikahan itu.
Saya menyadari bahwa tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi oleh pasangan kita dan seyogianyalah kita bersikap realistik akan hal ini. Namun, saya berkeyakinan, dengan berjalannya waktu (Ingat, semua ini tidak terjadi dalam sekejap!), pernikahan yang sehat akan mengubah kita menjadi lebih terampil memenuhi kebutuhan pasangan kita. Dengan kata lain, semakin lama kita menikah, seharusnya semakin cekatan kita memenuhi kebutuhan masing-masing dan semakin kecil kebutuhan yang harus dipenuhi oleh unsur-unsur luar.
Saya berharap Saudara dapat memanfaatkan dua uji kesehatan ini. Duduklah bersama dan bicarakanlah dengan pasangan masing-masing. Nilai yang tinggi akan membuat kita makin bersemangat memelihara pernikahan kita. Nilai yang rendah seharusnya membuat kita prihatin dan tergerak untuk memperbaharui pernikahan kita.






Jumat, 02 Agustus 2013

Artikel - Menjadi Berkat Bagi Bangsa



MENJADI BERKAT BAGI BANGSA
Yeremia 29 : 1 – 14

Dalam perikop yang kita baca, kita melihat bahwa Israel masuk ke dalam kategori kerajaan yang gagal. Namun, ada satu yang perlu dicatat bahwa di dalam kegagalan dan kehancuran mereka, Tuhan menjanjikan pemulihan, penyertaan dan pemeliharaan. Dalam kegagalan mereka, Tuhan mengajar mereka untuk tetap melihat bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat dan berkuasa atas seluruh alam semesta ini, termasuk atas bangsa-bangsa. Dari sini, hendaknya kita pun menaruh pengharapan dan kepercayaan kepada Allah berkenaan dengan kondisi negara kita, bahwa Allah yang sama akan memelihara dan menyertai umat-Nya di Indonesia.
Melalui kegagalan dan kehancuran Israel ini, kita bisa mempelajari beberapa hal.
1. Tuhan punya rencana untuk hidup kita, "... kemana kamu Aku buang..." (ayat 7 dan 14). Kalau kita perhatikan ayat-ayat ini, kita menemukan bahwa Allah berperan aktif dalam kisah pembuangan bangsa Yahudi ke Babel. Hal ini dilakukan Allah karena kejahatan dan dosa bangsa Israel yang sangat besar.
Namun, pembuangan mereka ke Babel bukanlah tanpa tujuan. Kita perhatikan di kitab Daniel, bahwa Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego melakukan tugas dari Allah dengan setia. Bukan hanya itu, di Babel pun mereka memberitakan nama Allah. Dengan kata lain, pembuangan tersebut sebagai pengutusan.
Adakah kita melihat perjalanan hidup kita sebagai sebuah bentuk panggilan dan pengutusan dari Allah? Allah yang menempatkan kita di Indonesia. Allah juga yang mengutus kita untuk bekerja, bertempat tinggal, bersekolah atau kuliah di tempat-tempat yang sekarang ini kita tempati. Sadarilah bahwa Tuhan yang mengutus kita.

2. Tuhan memberikan tugas untuk kita, "mengusahakan kesejahteraan dan berdoa" (ay. 7). Ada dua hal yang bisa kita lakukan, yaitu berdoa dan mengusahakan kesejahteraan. Ini adalah dua hal penting yang harus dilakukan secara bersamaan.
(a)  Berdoalah. Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus memberikan nasihat untutk mendoakan para pemimpin bangsa (1 Tim. 2:1-3). Sebelum Paulus membahas tentang gereja, Paulus mendesak Timotius (dan juga jemaat untuk mendoakan pemerintah). Mengapa hal ini harus dilakukan? Karena secara geografi, gereja berada di dalam negara. Keputusan yang diambil oleh negara akan membawa dampak pada gereja. Karena itu, orang Kristen harus mendoakan pemerintah. "Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini" (Ams. 21:1; bdk. Est. 4:15-17).
(b)  Mengusahakan kesejahteraan. Daniel dan teman-teman telah melaksanakan tugas ini dengan baik, sehingga mereka mendapat kepercayaan yang besar dari Nebukadnezar. Demikian juga kita, hendaklah kita melakukan segala sesuatu yang dapat kita lakukan untuk mendatangkan kesejahteraan dan kemajuan bagi negara kita ini. Jika kita bisa membangun Indonesia dari segi hukum, pendidikan, kesehatan, keamanan, ekonomi, dsb., maka hendaklah kita melakukannya dengan setia. Satu hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan membangun keluarga yang mencintai Tuhan: menanamkan firman Tuhan di dalam kehidupan semua anggota keluarga kita.

3. Tuhan punya janji untuk hidup kita (ayat 10-14). Ada sesuatu yang istimewa yang disampaikan Tuhan bahwa Dia bukan hanya menyatakan tugas yang harus dikerjakan tapi Dia juga memberikan janji dan pengharapan kepada bangsa Israel. Allah berjanji untuk memulihkan keadaan Israel. Allah menjanjikan pemeliharaan dan penyertaan bagi Israel.
Bagaimana kita menyikapi pergumulan bangsa kita ini? Bagaimana kita memandang peran Allah dalam pergumulan bangsa kita? Apakah kita tetap mempercayai Allah dalam setiap peristiwa yang terjadi di negara kita? Bagaimana kepercayaan kita pada Allah dalam memelihara hidup kita? Hendaklah kita tetap percaya pada Allah, meskipun berbagai peristiwa yang terjadi di negara kita.

Rabu, 31 Juli 2013

Artikel - IBADAH KELUARGA YANG MENYENANGKAN


IBADAH KELUARGA YANG MENYENANGKAN

Penulis: 
Heman Elia, M.Psi


Mendengar kata ibadah, kebanyak orang menghubungkannya dengan ritual formal yang kaku, membosankan, dan tidak menarik. Karena itu, banyak keluarga yang sekalipun menyebut dirinya keluarga Kristen, jarang atau bahkan tidak pernah melakukan persekutuan dalam keluarganya sendiri. Padahal ibadah keluarga dapat menjadi saat-saat yang menyenangkan dan paling dinantikan oleh anak-anak kita.

Keluarga adalah sesuatu yang berharga bagi Allah. Ada beberapa contoh dalam Alkitab bahwa Allah menyelamatkan keluarga umat-Nya dari pembinasaan orang-orang fasik yang Allah lakukan. Nuh beserta istri dan anak serta menantunya diselamatkan dari air bah, Lot beserta istri dan anaknya juga diselamatkan dari pemusnahan Sodom dan Gomora. Selain itu, Allah memberkati keluarga Abraham dan juga keluarga Yakub. Kita juga memperoleh gambaran mengenai ibadah keluarga yang dilakukan oleh orang-orang beriman ini. Karena itu, ibadah keluarga merupakan aktivitas penting dan melalui ibadah keluarga, Tuhan berkenan mencurahkan berkat-Nya.

Absennya ibadah keluarga menyebabkan lemahnya keluarga menghadapi serangan terhadap moral dan spiritual keluarga. Anggota keluarga terpecah-belah karena tidak ada kasih Tuhan yang mengikat mereka. Keluarga yang tidak menyelenggarakan ibadah juga rentan terhadap pengaruh dunia yang menggerogoti kehidupan rohani. Sebaliknya, terpeliharanya ibadah keluarga menyebabkan tidak terputusnya generasi yang beriman dan mengasihi Tuhan. Berkat Tuhan akan tercurah ke atas keluarga yang demikian.

Pentingkah Ibadah Keluarga?

Mazmur 1 adalah salah satu hafalan Alkitab yang kami hafalkan ketika kami masih kanak-kanak. Tentu saat itu saya tidak dapat mencerna sepenuhnya arti Mazmur ini. Ketika itu saya sering bertanya pada diri sendiri, "Apa menariknya kita merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam? Bagaimana saya dapat bersukacita ketika merenungkannya?"

Ketika dewasa, saya baru menyadari dan bersyukur bahwa kebiasaan melakukan ibadah keluarga yang diterapkan orangtua saya itu membawa banyak berkat dalam kehidupan kami. Sekalipun kerajinan saya dalam membaca Alkitab dan berdoa dapat mengalami pasang surut, kebiasaan beribadah dalam keluarga 'memaksa' saya untuk terus mengupayakan doa dan pembacaan Firman Tuhan. Dari sanalah sukacita sejati dapat kita nikmati. Saya kemudian dapat menghayati, "Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni, membuat mata bercahaya. Taku akan Tuhan itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum Tuhan itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah." (Mazmur 19:8-10)

Apa pentingnya ibadah keluarga?

Pertama, ibadah keluarga membuat hidup kita diarahkan kepada Tuhan. Setiap hari, keluarga kita mempunyai waktu khusus buat Tuhan. Dengan demikian hidup kita relatif terlindung dari dosa dan perpecahan keluarga.

Kedua, ibadah keluarga membuat anggota keluarga diikat satu sama lain dalam kasih Kristus. Bila ada perselisihan, ibadah keluarga mempercepat pemulihan suasana harmonis dalam rumah tangga. Dorongan untuk beribadah membuat masing-masing anggota keluarga merasa 'sungkan' sehingga berpotensi mengurangi ketegangan. Tentu tidak enak rasanya menghadap Tuhan dalam keadaan yang kurang baik dan dengan masih menyimpan kebencian. Dalam keluarga yang bermasalah sekalipun, misalnya ketika salah satu orangtua absen dan bermasalah, adanya ibadah keluarga yang rutin diadakan memberi kekuatan ekstra untuk menghadapi masalah demi masalah. Ada kalanya Tuhan mengadakan pemulihan buat keluarga bermasalah ketika anggota keluarga saling mendoakan satu sama lain.

Ketiga, ibadah keluarga membuat anggota keluarga bertumbuh secara rohani. Anak-anak akan mempunyai kenangan indah bagaimana mereka dibimbing oleh orangtua mereka dalam hal iman dan Firman Tuhan. Anak yang terbiasa membaca Firman Tuhan akan lebih mudah mengembangkan kepekaan akan hal-hal rohanidan karena itu perilaku mereka pun lebih terkontrol. Sebaliknya, acapkali orangtua pun diingatkan secara tidak langsung akan perilaku mereka yang tidak sesuai dengan apa yang mereka ajarkan. Dengan demikian orangtua pun lebih waspada akan tingkah lakunya sendiri.

Keempat, anak-anak dalam keluarga yang secara rutin menerapkan ibadah keluarga akan lebih mudah diajar dan lebih peka terhadap kebenaran. Mereka secara kritis akan bertanya mengenai arti rohani dari pengalaman-pengalaman mereka. Dampaknya, kita pun memiliki lebih banyak kesempatan untuk menjelaskan kebenaran dan memahami apa yang mereka pikirkan.

Kelima, persekutuan keluarga membuat seluruh anggota keluarga lebih kuat untuk menghadapi tekanan hidup. Ini dapat terjadi karena ketika kita bersekutu bersama, setia anggota keluarga memiliki kesempatan untuk saling memperhatikan dan saling mendukung. Banyak kebutuhan emosi maupun rohani dapat memperoleh pemenuhan ketika kita berkesempatan berkumpul, sehingga ketika krisis melanda, anggota keluarga memiliki kekuatan untuk bertahan.

Bila ibadah keluarga sedemikian bermanfaat, mengapa kita sering enggan melakukannya? Pertama, ibadah keluarga menuntut kerja keras dari orangtua, dalam hal ini untuk mempersiapkan diri dengan lebih banyak belajar Firman Tuhan. Ketika ibadah dilangsungkan, kita tentu perlu membimbing anak-anak kita untuk bertumbuh dalam iman. Bila kita tidak menyiapkan diri dengan baik, kita menjadi gamang ketika berhadapan dengan anak-anak yang ingin melihat contoh nyata bagaimana hidup dalam Firman Tuhan. Sebagai manusia berdosa yang sering berperang melawan kedagingannya sendiri, kita perlu mengingatkan diri kita agar tidak lengah dan malas dalam bersaat teduh dan membaca Alkitab.

Kedua, sering kali ibadah keluarga terabaikan karena adanya prioritas yang lebih utama di mata orangtua. kesibukan mengejar karir dan popularitas di masyarakan acapkali mempersulit orangtua menyelenggarakan ibadah keluarga secara rutin. Kurangnya waktu kebersamaan dalam keluarga modern karena orangtua sibuk bekerja di luar rumah dan pulang malam hari dalam keadaan letih. Kesulitan anak dalam pelajarannya di sekolah membuat orangtua harus terus-menerus mengawasi anaknya belajar dan ini juga menyita banyak waktu keluarga. Dalam keadaan seperti in, orangtua perlu mengingatkan diri bahwa semua kesibukan dan kesempatan menikmati hidup dari Tuhan juga asalnya. Karena itu kita perlu mendahulukan Tuhan dan kita pun perlu memberi contoh kepada anak-anak kita. Bila di tengah sempitnya waktu, kita masih dapat mengupayakan ibadah, anak akan juga belajar memprioritaskan Tuhan dalam hidupnya.

Ketiga, ada cukup banyak orangtua berpandangan bahwa sekolah minggu telah mengajarkan segala sesuatu tentang Alkitab. Guru sekolah minggun dianggap lebih kompeten dibanding orangtua. karena itu, orangtua sudah cukup puas bila anaknya disertakan dalam kegiatan sekolah minggu. Ada kalanya alasan ini dikemukakan karena orangtua tidak hidup di dalam pemahaman Alkitab dengan akibat orangtua gagap dalam beribadah, apalagi bila harus memimpin ibadah, bahkan untuk memimpin ibadah dalam keluarga sendiri sekalipun. Bila orangtua kurang percaya diri mengajarkan Alkitab dan memimpin doa di rumah, orangtua perlu berusaha membaca Alkitab lebih sering dan kemudian mempelajari latar-belakang suatu bagian Alkitab ditulis, baik lewat buku-buku maupun lewat kelas-kelas pemahaman Alkitab.

Sebetulnya anak-anak akan terbantu secara meyakinkan bila mereka mmeperoleh pengajaran Alkitab di gereja dan juga di rumah. Alasannya, pengenalan akan Tuhan bukan hanya terjadi secara rasio belaka. Alkitab mengajarkan pula mengenai bagaimana harus menjalani hidup ini dan anak perlu diajarkan untuk hidup dalam hikmat Tuhan. Bandingkan berapa banyak waktu televisi dan orang tudak percaya mempengaruhi mereka bila dibandingkan dengan jumlah waktu mereka bersentuhan dengan Firman Tuhan. Selain itu, banyak kali anak-anak memperoleh gambaran mengenai Allah melalui orangtuanya di bumi ini. Persekutuan keluarga membantu mereka mengenal Allah lewat orangtua mereka.

Keempat, kita tidak mempunyai hubungan pernikahan yang baik dan karena itu kita enggan berbicara dan bertegur sapa dengan pasangan atau anak-anak kita. Keadaan demikian mempengaruhi suasana hati kita sehingga kita pun enggan bersekutu, berdoa, dan membaca Alkitab. Bila pernikahan kita berada pada kondisi demikian, kita wajib bekerja keras memperbaiki hubungan pribadi kita dengan Tuhan dan kemudian memperbaiki juga kondisi pernikahan kita.

Kelima, ada kegiatan lain yang merupakan selingan, namun akhirnya lebih menyita waktu dan menghalangi keluarga beribadah. Selingan itu dapat berupa acara televisi, play station, internet, komputer, mobil atau motor, menonton film, shopping, rekreasi, dan sebagainya. Tontonan dan permainan yang sehat tentu saja kita butuhkan. Namun jangan sampai selingan itu mengambil alih persekutuan keluarga dengan Tuhan. Keberanian menghitung kembali waktu kita berekreasi dan memotong waktu keluarga untuk selingan yang tidak perlu akan membantu kita mengadakan persekutuan lebih baik dengan Tuhan.

Beberapa Ide Agar Ibadah Menyenangkan

Bila kita dapat menciptakan suasana yang menyenangkan, saat beribadah akan menjadi saat yang dinanti-nantikan oleh seluruh keluarga. Dengan demikian hambatan beribadah dapat dikurangi. Beberapa ide berikut ini dapat dicoba untuk menghidupkan suasana ibadah keluarga kita.

Ciptakan suasana keluarga yang saling mengasihi. Ibadah keluarga akan terasa sebagai aktivitas yang kering dan tidak menyenangkan tatkala suami-istri dan anak-anak tidak memiliki hubungan yang baik. Upaya kita untuk mengasihi satu sama lain akan memberi rasa aman dan sukacita, sehingga kita pun menikmati kebersamaan dalam ibadah keluarga.

Upayakan agar bentuk ibadah tidak terlalu formal dan kaku. Banyak orangtua yang terpaku pada ritual yang lebih cocon untuk orang dewasa. Padahal sebenarnya yang lebih penting dari suatu ibadah keluarga adalah kebersamaan dalam Tuhan. Jadi, kita boleh melakukan itu hanya dengan berdoa bersama saja dan kemudian menghafalkan ayat Alkitab, atau bisa juga dengan menceritakan kesaksian mengenai kebaikan Tuhan. Ibadah bersama anak juga dapat dilakukan dengan pertanyaan kita kepada mereka menyangkut iman atau moralitas, misalnya mengenai kejujuran, atau mengenai kebaikan Tuhan atas diri mereka. Jawaban mereka ini kemudian kita diskusikan dan ditutup dengan doa.

Buatlah variasi yang menyenangkan. Ada banyak cara yang kita dapat lakukan agar anak senang beribadah dalam keluarga. Kita dapat bernyanyi lagu rohani bersama anak dan kemudian berdoa. Pada kesempatan lain kita dapat bermain teka-teki Alkitab. Ibadah dapat pula dilakukan dengan menanyakan satu dua hal yang anak ingin doakan, baik menyangkut teman mereka atau persoalan mereka. Pada kesempatan lain orangtua dan anak dapat saling berbagi cerita. Kemudian cerita ini dapat dikaitkan dengan pelajaran dari Alkitab. Umumnya anak-anak suka sekali mendengar kisah tokoh-tokoh Alkitab. Karena itu bercerita dapa menjadi bagian yang paling sering dilakukan dalam ibadah kita. menghafal ayat Alkitab juga dapat menjadi bagian ibadah yang menyenangkan. Bila anak sudah dapat membaca, anak dapat diminta membacakan ayat-ayat tertentu dari Alkitab. Beberapa buku bantu renungan Alkitab yang Alkitab yang disusun secara menarik buat anak dapat pula dijadikan sebagai salah satu bahan ibadah. Teka-teki silang, juga permainan kata dan gambar dapat merupakan alat bantu menarik sehingga anak tertarik untuk belajar Alkitab.

Seyogyanya acara ibadah keluarga berlangsung tidak terlalu lama. Lebih baik Mengadakan ibadah keluarga dengan frekuensi lebih banyak setiap minggunya dari pada jarang diadakan, tetapi setiap kali dilakukan selalu berlangsung lama. Alasannya, anak yang masih kecil tidak mampu memusatkan perhatian dalam jangka waktu yang lama. Bila ibadah berkepanjangan, selain anak menjadi bosan dan tidak lagi menyukainya, kita pun seolah melakukannya dengan terpaksa.

Ciptakan berbagai kesempatan untuk melangsungkan ibadah dalam keluarga. Banyak kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagi hidup di dalam Tuhan dengan anak-anak kita. Dalam perjalanan ke sekolah, bila kita mengantar sendiri anak kita dengan mobil, kita mempunyai kesempatan cukup banyak untuk membagikan apa yang kita lihat dan mengajak anak untuk bersyukur. Bila di rumah ada alat musik atau tape, kita dapat memainkan atau memutarkan lagu rohani dan menyanyikannya bersama anak. Makan malam bersama keluarga merupakan waktu yang baik untuk mendengarkan anak-anak bercerita tentang pengalaman mereka dan menggali beberapa pokok doa. Waktu malam menjelang tidur adalah waktu yang ideal bagi kebanyakan orangtua untuk berdoa dan berbagi cerita.

Ibadah keluarga lebih mudah dilakukan bila kita dapat mengupayakan relasi keluarga yang harmonis.Orangtua yang takut akan Tuhan dan anak-anak yang dididik sejak usia sangat muda di dalam Tuhan merupakan modal penting dalam membangun suasana ibadah dalam keluarga. Selamat berbakti melalui keluarga!


http://www.telaga.org/artikel/ibadah_keluarga_yang_menyenangkan


ARTIKEL - GEREJA

GEREJA (EKKLESIA)

(Oleh: John Stott)

Pertanyaan yang harus kita ajukan sebelum kita mulai ialah: Apakah gereja itu sebenarnya?
Gereja adalah jemaat, suatu perhimpunan orang yang memperlihatkan eksistensi, solidaritas, yang berbeda dari perhimpunan-perhimpunan lain untuk satu hal, yakni "panggilan Allah".
Semua itu dimulai dari Abraham, yang dipanggil Allah untuk meninggalkan negerinya sendiri dan keluarganya. Allah berjanji kepada Abraham bahwa ia akan diberikan negeri dan kaum keluarganya akan menjadi suatu bangsa yang besar, dan melaluinya segala bangsa di muka bumi ini akan diberkati. Berulang kali perjanjian anugerah ini ditegaskan kepada Abraham, yakni melalui keturunannya semua bangsa di bumi akan diberkati. Janji ini selanjutnya ditegaskan kepada Ishak, dan kepada Yakub. Tetapi Yakub meninggal di dalam tawanan. Demikian juga anaknya yang terkenal, Yusuf.
Memang, di akhir kitab Kejadian dijelaskan bahwa sesudah Yusuf meninggal dunia, mayatnya dibalsam dan "ditaruh dalam peti mati di Mesir." (Kejadian 50:26) Namun langkah-langkah pertama menuju penggenapan janji Allah baru terjadi ketika Ia, melalui Musa, dari keturunan Lewi bin Yakub, menyelamatkan bangsa itu dari perbudakan. "Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu." (Hosea 11:1) Tiga bulan sesudah keluar mereka memasuki padang gurun Sinai, dan Tuhan memerintahkan Musa untuk mengatakan kepada bangsa itu:
"Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan iman dan bangsa yang kudus." (Keluaran 19:4-6)
Maka perjanjian disahkan, hukum diberikan, kemah suci didirikan, dan ibadah dimulai. Kemudian tanah perjanjian ditaklukkan, dan setelah itu pemerintahan diteguhkan. Tetapi semuanya itu berakhir dengan malapetaka. Umat Allah melanggar perjanjian-Nya, menolak hukum-Nya, dan meremehkan nabi-nabi-Nya, sehingga tidak ada pertolongan bagi mereka. Penghukuman Allah ditimpakan atas mereka, dan penawanan kedua (ke Babel) dimulai.
Namun Allah tidak membiarkan umat-Nya. Pada waktunya, sesuai dengan janji-Nya, Ia akan memberkati mereka. Ia memanggil mereka keluar dari Babel -- sebagaimana Ia telah memanggil mereka keluar dari Mesir -- serta mengembalikan mereka ke tanah air mereka sendiri. Seperti yang dikatakan Allah melalui Yeremia:
"Sebab itu, demikianlah firman Tuhan, sesungguhnya waktunya akan datang, bahwa tidak dikatakan orang lagi: Demi Tuhan yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah Mesir!, melainkan: Demi Tuhan yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah utara dan dari segala negeri kemana Ia telah mencerai-beraikan mereka! Sebab Aku akan membawa mereka pulang ke tanahyang telah Kuberikan kepada nenek moyang mereka." (Yeremia 16:14-15)
Tetapi Allah juga telah menjanjikan bahwa melalui umat-Nya Ia akan memberkati semua bangsa di dunia; dan ini digenapi melalui Kristus. Sebab panggilan Allah -- mula-mula kepada keluarga Abraham dari Ur dan dari Haran untuk memasuki tanah Kanaan, kemudian terhadap keturunan Yakub dari Mesir, dan setelah itu terhadap sisa-sisa suku Yehuda dari Babel -- semuanya memberikan bayangan akan suatu panggilan yang lebih baik, penebusan yang lebih besar, dan warisan yang lebih berlimpah. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus, Allah bermaksud memanggil keluar dari dunia ini suatu umat pilihan bagi diri-Nya sendiri, menebus mereka dari dosa, dan membuat mereka mewarisi janji-janji keselamatan-Nya.
Maka gereja adalah umat Allah, "ekklesia"-Nya, yang dipanggil keluar dari dunia ini untuk menjadi milik-Nya, dan eksis sebagai entitas yang sungguh-sungguh ada dan terpisah, semata-mata hanya karena panggilan- Nya. Perjanjian Baru sangat menuntut serta menekankan hal ini. Allah telah memanggil kita "kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita," memanggil kita "menjadi milik Kristus". (1 Korintus 1:9, Roma 1:6) Panggilan ilahi ini adalah suatu "panggilan kudus". (2 Timotius 1:9, 1 Tesalonika 4:7) Allah memanggil kita untuk hidup kudus karena Dia adalah Allah yang kudus, dan "supaya hidup [kita] sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu" (1 Petrus 1:15,16; Efesus 4:1), sehingga dengan kuasa penyucian dari Roh Kudus kita boleh berubah di dalam karakter dan tingkah laku sesuai dengan status kita, yakni sebagai "orang-orang kudus", yang berbeda, terpisah; umat yang dikuduskan bagi Allah.
Namun, panggilan itu tidak dimaksudkan agar gereja menarik diri keluar dari dunia kepada kehidupan pietisme. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Uskup Lesslie Newbigin, "Gereja ... adalah sekelompok musafir yang sedang dalam perjalanan menuju akhir dari dunia dan waktu." Dan pula, gereja merupakan khafilah umat Allah. Mereka sedang bergerak -- bergegas menuju akhir dari dunia ini dan memohon agar semua orang didamaikan dengan Allah, dan bersegera menuju akhir waktu untuk menjumpai Tuhannya yang akan mengumpulkan semua orang menjadi satu.
Itulah sebabnya, lebih lanjut Newbigin mengemukakan, "Gereja tidak mungkin dimengerti secara tepat kecuali di dalam suatu sudut pandang misioner dan eskatologis sekaligus." Oleh karena itu, penulis- penulis Perjanjian Baru mengemukakan, Allah yang telah memanggil kita keluar dari dunia ini telah mengutus kita kembali ke dalam dunia:
"Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib." (1 Petrus 2:9)
Dia juga telah memanggil kita sebagaimana Kristus telah menderita karena perlakuan yang tidak adil di dunia ini, dan melalui penderitaan-Nya Dia telah memanggil kita "kepada kemuliaan-Nya yang kekal dalam Kristus." (1 Petrus 2:20,21; 5:10)
Demikianlah gereja, umat Allah, yang dipanggil keluar dari dunia bagi Dia sendiri, dipanggil untuk suatu misi, dipanggil untuk menderita, dan dipanggil melalui penderitaan kepada kemuliaan.

Gereja Allah adalah Gereja yang Esa
Panggilan terhadap gereja ini juga merupakan panggilan terhadap seluruh gereja dan setiap anggota dari gereja, tanpa suatu perbedaan atau pembagian apa pun. Sebelumnya, panggilan Allah hanya ditujukan kepada Abraham dan keturunannya, yang secara jasmaniah adalah bangsa Israel, sedangkan bangsa-bangsa non-Yahudi "tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan." (Efesus 2:12) Namun sekarang janji kepada Abraham itu telah menjangkau dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain juga. Maka Paulus menuliskan kepada jemaat di Efesus:
"Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu `jauh`, sudah menjadi `dekat` oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan matinya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu." (Efesus 2:13-16)
Kita tidak boleh menghilangkan penjelasan Rasul Paulus mengenai peniadaan dan penciptaan ini. Allah telah meniadakan (menghapuskan) aspek dari hukum Taurat itu yang telah membuat Israel menjadi bangsa yang terpisah, dan Dia menciptakan "seorang manusia baru."
Umat manusia yang baru ini, yakni gereja, merupakan perkumpulan yang mengagumkan dan meliputi banyak hal. Kristus telah meniadakan lebih dari sekadar penghalang-penghalang kesukuan dan kebangsaan; Dia telah menghapuskan juga penghalang-penghalang kelas dan gender: "... tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus." (Galatia 3:28) Hari-hari diskriminasi telah berlalu. Umat Kristus yang baru telah diciptakan di dalam gereja tanpa memedulikan perbedaan suku bangsa, tingkatan, ataupun jenis kelamin. Ini tidak berarti bahwa persamaan di dalam kekristenan itu sinonim dengan anarki -- sebab Paulus juga mengimbau para istri agar taat terhadap suaminya dan budak-budak tunduk terhadap tuannya, tetapi lebih berarti bahwa segala hak istimewa dan berkat rohani di hadapan Allah telah dikeluarkan:
"Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan." (Roma 10:12,13)
Sebagai akibatnya, semua orang Kristen yang percaya, baik Yahudi maupun non-Yahudi, laki-laki atau perempuan, budak atau orang merdeka, orang Yunani yang terpelajar atau orang barbar yang tidak beradab adalah "kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah", dan juga "ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus karena berita Injil." (Kolose 3:11, Efesus 2:19, 3:6) Di dalam ayat-ayat ini Paulus memakai empat kata majemuk dari bahasa Yunani yang kemudian diterjemahkan menjadi "para kawan sewarga" ("sumpolitai"), "para ahli waris" ("sugkleronoma"), "para anggota" ("sussoma"), dan "para pengambil bagian" ("summetocha") untuk menegaskan dengan sejelas mungkin mengenai partisipasi umum yang tidak boleh dibeda-bedakan dari seluruh umat Allah dalam segala berkat yang terdapat di dalam Injil. Paulus juga mengajarkan kebenaran yang sama dalam daftar kesatuan yang dibuatnya:
"Hanya ada satu tubuh dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua." (Efesus 4:4-6)
Tetapi apakah kaitan atau hubungan antara hal ini dengan buku mengenai kaum awam? Mengapa saya berpikir bahwa penting sekali bagi kita untuk mempertegas kembali mengenai peniadaan hak istimewa dan penciptaan satu umat yang baru dengan persamaan hak ini? Masalah sebenarnya dalam sistem yang membedakan antara pendeta dengan kaum awam nampaknya hanya sebagai usaha menentang dasar kesamaan dan kesatuan umat Allah. Hal yang senantiasa dilakukan sistem ini, yakni memusatkan kekuasaan dan hak istimewa di tangan pendeta, telah menyembunyikan, bahkan membinasakan hakikat kesatuan umat Allah.
Kedua pihak yang telah disatukan oleh Kristus dipisahkan menjadi dua lagi oleh pemikiran sistem ini, yang satu lebih tinggi dan yang lainnya lebih rendah, yang satu aktif dan yang lainnya pasif, yang satu benar-benar penting karena sangat diperlukan bagi kehidupan gereja, yang lainnya tidak terlalu diperlukan sehingga tidak terlalu penting. Saya tidak ragu-ragu mengatakan bahwa menafsirkan gereja dipandang dari segi pembedaan kasta yang memberikan hak istimewa kepada golongan pendeta, atau struktur yang bersifat hierarki, berarti menghancurkan doktrin Perjanjian Baru mengenai gereja.
Tetapi kita memunyai kebebasan menafsirkan gereja dipandang dari sudut pandang seorang pendeta, dan mudah sekali bagi orang-orang yang berpikiran demikian tergelincir ke dalam pola pemikiran di atas. Untuk memaparkan hal ini, kita akan meninjau kembali beberapa penggambaran penting berdasarkan Alkitab mengenai gereja. Kita tidak dapat melakukan pemeriksaan secara lengkap dan mendalam, tetapi pemeriksaan kita akan cukup untuk membuktikan hal ini: setiap gambaran Alkitab mengenai gereja memberikan iluminasi mengenai hubungan antara umat Allah dengan Allah sendiri di dalam Kristus dan/atau dengan sesamanya. Hanya sedikit perhatian diarahkan kepada golongan pendeta sebagai pihak ketiga yang berbeda dari yang lainnya. Dengan kata lain, dalam pemaparan sifat dan tugas gereja, kebanyakan pokok pikiran Perjanjian Baru bukanlah mengenai kedudukan pendeta, juga bukan tentang hubungan antara pendeta dan kaum awam, melainkan mengenai keseluruhan umat Allah dalam hubungan mereka dengan Dia dan antara satu dengan yang lain; umat yang khusus yang telah dipanggil oleh anugerah-Nya untuk menjadi ahli waris-Nya serta duta-Nya di dunia.

Kiasan-Kiasan tentang Gereja
Tiga di antara gambaran yang paling indah mengenai gereja dalam Perjanjian Baru diambil dari Perjanjian Lama. Ketiganya melukiskan umat Allah sebagai pengantin wanita-Nya, kebun anggur-Nya, dan kawanan domba-Nya. Semuanya menyoroti hubungan langsung yang telah diteguhkan Allah dengan umat-Nya dan yang telah mereka nikmati bersama-Nya.
Allah telah memandang Israel sejak masa mudanya, mempertunangkan dia dengan diri-Nya sendiri sebagai pengantin perempuan-Nya, untuk selanjutnya memasuki perjanjian nikah dengan-Nya. (Yehezkiel 16, Yeremia 2:2, 31:32, Yesaya 62:5) Tetapi kemudian Allah mengeluh tentang ketidaksetiaan Israel, dan tindakan-tindakan persundalan serta perzinahannya (Hosea 2).
Allah telah mengambil sebatang pohon anggur dari Mesir dan menanamnya di Kanaan, sebuah "lereng bukit yang subur." Di sana pohon itu berakar dan bertumbuh memenuhi negeri itu. Ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya untuk mengawasinya dan sebuah tempat memeras anggur untuk mempersiapkan panen anggur. Ia mengharapkan kebun anggur-Nya itu menghasilkan buah anggur yang baik tetapi yang dihasilkannya ialah buah-buah anggur yang asam. Maka Allah membiarkan kebun anggur-Nya diinjak-injak dan ditelantarkan. Allah menantikan Israel berbuah keadilan, tetapi yang dihasilkannya adalah buah kelaliman; Dia mengharapkan kebenaran, namun yang ada hanya keonaran (Mazmur 80:9-20, Yesaya 5:1-7).
Allah adalah Gembala Israel. Dia menggiring Yusuf bagaikan kawanan domba. Sebagaimana Dia telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, "mengangkat dan menggendong mereka selama zaman dahulu kala", demikian juga sesudah penawanan di Babel Dia akan menghimpun domba- domba-Nya dalam tangan-Nya, anak-anak domba dipangku-Nya dan induk- induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati (Mazmur 80:2, Yesaya 63:9, 40:11).
Setiap gambaran di atas menekankan tindakan langsung dari kehendak Allah terhadap umat-Nya sebagai satu bangsa, pemerintahan yang berasal dari-Nya; Ia berinisiatif menyelamatkan mereka. Allah memilih Israel sebagai pengantin wanita-Nya, Ia menanam dan merawat kebun anggur-Nya, dan Ia menggembalakan kawanan domba-Nya. Dan ketika Yesus dengan berani menerapkan kembali kiasan atau gambaran-gambaran ini untuk diri-Nya, Dia bahkan lebih kuat menekankan hubungan pribadi yang dimaksudkan oleh masing-masing kiasan itu.
Yesus adalah mempelai laki-laki, dan karena Ia hadir bersama-sama para tamu maka mereka tidak pantas untuk berpuasa (Markus 2:18-20). Paulus mengembangkan kiasan ini lebih rinci dengan penjelasan mengenai kasih dan pengurbanan Kristus bagi gereja. Kepemimpinan-Nya atas gereja serta tujuan akhir dari gereja ialah supaya gereja ditempatkan di hadapan-Nya "dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa." (Efesus 5:27; 5:22-33) Pada akhir kitab Wahyu pertama-tama kita membaca bahwa "hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia" dan "kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya." (Wahyu 19:7, 21:2)
Yesus mengambil gambaran mengenai kebun anggur di dalam perumpamaan- Nya mengenai penggarap-penggarap kebun yang jahat (Markus 12:1-12), namun Dia juga melanjutkan hal itu, sebab Dia menegaskan bahwa Dia sendirilah pokok anggur yang benar, carang-carangnya bergantung kepada-Nya untuk dapat berbuah baik dengan tetap tinggal di dalam Dia dan juga dengan dibersihkan oleh tukang-tukang kebun (Yohanes 15:1-8).
Yesus menyebut diri-Nya sendiri "Gembala Yang Baik" yang mencari serta menyelamatkan domba yang hilang -- sekalipun hanya seekor domba-Nya yang hilang, yang mempertaruhkan nyawa-Nya demi domba-domba-Nya, dan yang memimpin mereka ke padang rumput yang segar serta melindungi mereka dari ancaman serigala (Lukas 15:3-7, Yohanes 10).
Empat kiasan lainnya mengenai gereja yang terdapat di dalam Alkitab intinya juga mengiluminasikan hubungan yang telah diteguhkan Allah dengan umat-Nya, sekalipun semuanya itu juga menuntut pengertian lebih lanjut.
Pertama, umat Allah adalah suatu kerajaan, tempat Allah menjalankan peraturan-peraturan-Nya; "wilayah kekuasaan-Nya" (Mazmur 114:2). Pemerintahan teokrasi Israel yang sesungguhnya, yang telah ditolak ketika bangsa itu menuntut seorang raja seperti yang dimiliki oleh bangsa-bangsa kafir, telah dipulihkan dan dirohanikan melalui Kristus. Dalam menyelamatkan kita, Allah "telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam kerajaan Anak-Nya yang kekasih" (Kolose 1:13) dan Kristus menjalankan pemerintahan-Nya di antara umat-Nya melalui Roh-Nya, "sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus." (Roma 14:17)
Selanjutnya, umat Allah adalah rumah tangga atau keluarga-Nya. Apa yang samar-samar terbayang di dalam Perjanjian Lama, yaitu ketika Israel disebut anak Allah (Hosea 11:1), secara lengkap dipaparkan di dalam Perjanjian Baru. Di dalam Kristus, Allah melahirkan kita kembali, menjadikan kita sebagai anak-anak-Nya, mengadopsi kita ke dalam keluarga-Nya, serta mengirim Roh-Nya ke dalam hati kita sehingga kita boleh memanggil Dia "Abba, Bapa." Banyak hal dalam kehidupan Kristen ditentukan -- seperti yang diajarkan Yesus -- oleh hubungan yang intim dan terbuka seperti gambaran Allah dengan anak ini. Kita tidak perlu lagi merasa khawatir memikirkan segala kebutuhan hidup kita sehari-hari, karena Bapa surgawi kita mengetahui segala yang kita perlukan. Kita cukup menyesuaikan diri dengan-Nya, dengan kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya, menyerahkan diri kita dan kehidupan kita sehari- hari kepada-Nya, memercayai Dia yang memelihara kita, serta percaya bahwa segala yang kita perlukan akan Ia berikan (Matius 6:7-13, 25-34, 7:7-11).
Ketiga, umat Allah adalah suatu bangunan "yang tidak dibuat oleh tangan manusia", suatu bangunan yang dirancang oleh Allah sendiri, bait Allah rohani yang dibangun kembali, dengan Yesus sebagai satu- satunya dasar -- seperti yang dipersaksikan oleh para rasul dan para nabi -- dan Roh Kudus di tempat mahasuci (1 Korintus 3:11, 16, Efesus 2:20-22).
Keempat, umat Allah adalah tubuh Kristus, gambaran yang paling menonjol di dalam surat-surat Paulus dan satu-satunya yang tidak memunyai padanan dengan Perjanjian Lama, dengan Kristus sebagai Kepala yang mengatur dan memberi makan seluruh tubuh-Nya dan Roh Kudus sebagai nafas yang memberi inspirasi kepada [gereja] (Efesus 4:4,15,16, Kolose 2:19).
Tetapi masing-masing dari keempat gambaran ini lebih dari sekadar memberikan iluminasi mengenai hubungan antara Allah dengan umat-Nya. Masing-masing menggambarkan juga hubungan-hubungan timbal balik serta tugas dan tanggung jawab yang dimiliki umat Allah. Kita adalah kawan sewarga dari kerajaan Allah, saudara-saudara di dalam keluarga, batu- batu hidup untuk pembangunan rumah yang rohani, dan lebih dari semuanya itu, anggota-anggota tubuh Kristus, yang bukan hanya menerima hidup dan perintah dari Kepala, tetapi kita sendiri berperan aktif dan saling bergantung satu dengan yang lainnya, dan oleh karenanya kita tidak boleh saling merendahkan atau iri terhadap yang lain (1 Korintus 12:14-26).

Banyak Kiasan -- Satu Berita
Semua kekayaan kiasan ini menunjukkan maksud yang sama. Dalam setiap gambaran itu penekanannya adalah pada inisiatif Allah yang sangat ramah. Dia sebagai Suami, [Pemilik Kebun], Gembala, Raja, Bapa, Pembuat Bangunan, dan [Kepala]. Umat-Nya sebagai sekelompok orang yang ditebus, baik sebagai pengantin-Nya, kawanan domba-Nya, keluarga-Nya, tubuh-Nya, dan lain-lain. Hubungan satu dengan yang lain sebagai carang-carang pada Pokok Anggur yang sama, domba-domba dalam kawanan yang sama, anak-anak di dalam keluarga yang sama, anggota-anggota tubuh yang sama. Tidak ada satu pun kiasan, baik yang menunjang maupun yang menentang, membicarakan mengenai pendeta. [Subjek tentang pendeta] sama sekali bukan yang dimaksud oleh Alkitab mengenai gereja.
Tepat sekali Paulus menyamakan dirinya dengan sahabat mempelai laki- laki pada pesta perkawinan, seperti yang juga diungkapkan Yohanes Pembaptis sebelumnya (2 Korintus 11:2, Yohanes 3:29). Dia juga membicarakan mengenai pelayanan mengajar yang dilakukannya bersama Apolos di Korintus dengan gambaran orang yang menanam dan menyiram benih di ladang Tuhan dan orang yang meletakkan dasar serta membangun rumah Tuhan (1 Korintus 3:5-15). Sama halnya, pelayan-pelayan gereja juga digambarkan sebagai gembala-gembala pengawas yang dipercayakan memelihara kawanan domba sebagai hulubalang-hulubalang kerajaan, sebagai pelayan-pelayan rumah tangga, dan sering kali juga digambarkan sebagai pengasuh-pengasuh di dalam keluarga. Di samping itu juga, meskipun setiap orang Kristen di gereja sebagai anggota tubuh Kristus memunyai peranannya masing-masing, namun beberapa organ nampak memunyai peranan yang lebih penting daripada yang lainnya, misalnya, kepala lebih penting dari kaki dan mata lebih penting dari tangan (1 Korintus 12:21), meskipun masing-masing saling membutuhkan dan tidak dapat melepaskan diri.
Meskipun demikian, setiap uraian menunjukkan suatu tambahan pada kiasan itu. Kiasan atau gambaran itu sendiri sudah lengkap tanpa tambahan-tambahan tersebut, dan lebih jelas lagi dikatakan, tidak bergantung pada hal-hal tambahan itu. Semuanya memunyai bagian masing- masing untuk dilakukan, tetapi hanya sebagai bagian yang bersifat tambahan, dan boleh ditambahkan, bagian yang dapat digantikan. Seorang sahabat pengantin laki-laki memang memunyai peranan yang sangat penting pada pesta perkawinan, tetapi tanpa dia pun pengantin pria dan wanita dapat tetap melangsungkan pernikahan mereka. Pelayan-pelayan dan perawat-perawat sangat berperan penting dalam suatu rumah tangga, tetapi seorang ayah tidak akan membiarkan anak-anaknya mati hanya karena tidak ada mereka. Tidak. Kebenaran-kebenaran yang paling penting yang digarisbawahi oleh kiasan-kiasan mengenai gereja ini ialah sikap Allah yang ramah terhadap umat-Nya dan tugas-tugas mereka yang bertanggung jawab terhadap Dia dan terhadap yang lainnya.
Kesatuan hakiki gereja, yang dimulai di dalam panggilan Allah dan digambarkan di dalam kiasan-kiasan Alkitab, memimpin kita sampai pada kesimpulan ini: Segala tanggung jawab yang dipercayakan Allah kepada gereja-Nya telah dipercayakan-Nya kepada seluruh Gereja-Nya. Siapakah mereka yang dimaksudkan? "Kamu yang dahulu bukan umat Allah," Petrus menulis, "tetapi sekarang telah menjadi umat-Nya." Dan dia menjelaskan lebih lanjut, umat Allah adalah imamat kudus, [yang diciptakan] untuk mempersembahkan kepada-Nya persembahan-persembahan yang rohani dan yang berkenan kepada-Nya berupa puji-pujian dan doa, dan juga suatu umat yang misioner, [yang diciptakan] untuk memberitahukan kepada orang-orang lain perbuatan-perbuatan yang besar dari Allah mereka, Allah yang telah memanggil mereka kepada terang-Nya yang ajaib dan yang telah menaruh belas kasihan atas mereka (1 Petrus 2:5,9,10). Singkatnya, umat Allah memiliki tujuan untuk menjadi persekutuan orang-orang yang beribadah kepada Dia serta menyaksikan kemuliaan dan kebesaran-Nya. Dan kedua tugas ini menjadi tanggung jawab segenap gereja sebagai Gereja-Nya. Pendeta tidak dapat memonopolinya, demikian juga kaum awam atau jemaat tidak boleh melarikan diri dari tanggung jawab ini. Baik pendeta maupun anggota jemaat tidak dapat melimpahkan tanggung jawab ini kepada orang lain; tidak mungkin ibadah dan kesaksian diwakili oleh orang lain.
Mempertahankan hal ini adalah suatu koreksi yang sehat terhadap sistem yang terlalu melebih-lebihkan pendeta, yang sudah terlalu sering dan cukup lama menempatkan kaum awam dan menyingkirkan mereka ke posisi yang lebih rendah dan nonaktif. Hal ini tentu saja juga mengaburkan gambaran mengenai gereja. Sudah barang tentu, Allah memanggil pendeta untuk suatu tugas yang penting, namun kedudukan mereka harus selalu tunduk kepada gereja secara keseluruhan, sebagai persekutuan yang ditebus oleh Allah sendiri. Kaum awam hanya akan menemukan tempat mereka yang sesungguhnya jika kebenaran yang sederhana ini disadari, yakni pendeta berada di tengah-tengah mereka untuk melayani gereja, bukannya gereja melayani pendeta. Agar benar-benar mengerti kebenaran ini, kita harus menemukan kembali ajaran Alkitab mengenai gereja sebagai umat Allah, dan khususnya kebenaran-kebenaran ini -- yakni bahwa dalam hal kedudukan dan hak umat Allah oleh panggilan-Nya dipersatukan dan tidak dapat dibedakan, dan bahwa mempersembahkan ibadah serta bersaksi kepada dunia merupakan hak yang tidak dapat dicabut serta tugas dari jemaat yang satu ini, yakni keseluruhan gereja, pendeta bersama-sama kaum awam.