ALAMAT GEREJA

Jl. Semeru 30 | Jl. Arif Margono 18
Telp. (0341) 366099 | (0341) 361949 | Fax. (0341) 325597
Email: gkkkmalang@yahoo.com | Admin blog: gielmanogi@gmail.com


Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Juli 2015

Ringkasan Khotbah - Bertumbuh Bersama Dalam Ibadah

Roma 12:1-2

Ringkasan Khotbah  Pdt. Gindo Manogi - Minggu, 28 Juni 2015

Mengapa ada orang-orang yang tidak mau atau sulit untuk diajak beribadah di gereja? Tentu saja mereka memiliki sejumlah alasan. Begitu juga bila ditanyakan “mengapa orang-orang bersedia pergi beribadah ke gereja? Juga ada sejumlah alasan yang bisa dikemukakan.
Di bagian firman Tuhan ini, rasul Paulus mengajarkan satu pengajaran yang sangat penting tentang beribadah: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah, aku menasihatkan kamu.” Paulus mendorong jemaat di Roma, dan juga kita pada saat ini, untuk beribadah karena mengingat “kemurahan Tuhan.” Dengan kata lain, ibadah yang kita lakukan merupakan ungkapan syukur kita kepada Allah atas kasih karunia, kebaikan dan belas kasihan Tuhan yang telah kita alami.  
Anugerah yang seperti apakah yang telah kita terima dari Allah? Dengan melihat kitab Roma pasal 1-11, maka kita mengetahui bahwa anugerah keselamatanlah yang dimaksud. Anugerah keselamatn ini adalah anugera terbesar dan memiliki nilai yang tidak dapat dibandingkan dengan apa pun: lebih berharga daripada jenjang karir yang sudah kita raih, deposito dan aset yang kita miliki, dsb. Jadi, ibadah merupakan respon yang wajar dari orang-orang yang telah diselamatkan oleh Allah. itu bukanlah sesuatu yang aneh, yang asing atau sesuatu yang berlebihan.

Berdasarkan perikop yang kita baca, ada 3 hal yang mau kita pelajari tentang ibadah.
1.        Ibadah:  mempersembahkan tubuh pada Tuhan.
Banyak orang beranggapan dan menuding orang Kristen mengajarkan kebebasan karena dosanya telah ditebus. Pengajaran Alkitab tidaklah demikian. Ayat ini menegaskan “persembahkanlah tubuhmu...itu adalah ibadahmu yang sejati.” Itu berarti setelah seseorang diselamatkan maka “mempersembahkan tubuh” merupakan sebuah konsekuensi yang harus dilakukannya.
“Mempersembahkan tubuh” berarti memberikan seluruh keberadaan diri kita kepada Allah dan menjadi milik Allah. Hal ini serupa dengan pengajaran Tuhan Yesus, “kasihilah kasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan dan segenap akal budi.” Dengan demikian, ibadah itu bukan lagi berbicara tentang tempat, keseragaman gerak, kostum, dsb., tapi seluruh aktivitas kehidupan kita (setiap hari) sebagai sebuah ibadah dan persembahan kepada Allah.  Hidup dan ibadah kita menyatakan penghormatan kepada Allah.

2.       Ibadah: sarana yang Tuhan pakai untuk mengubah kita menjadi serupa dengan Allah.
Berulang kali Alkitab mengajarkan bahwa Allah membentuk kita untuk menjadi serupa seperti Yesus, Anak Allah atau menjadi serupa dengan Bapa. Ibadah merupakan salah satu sarana yang Tuhan pakai untuk membawa kita menjadi serupa dengan Allah karena di dalam ibadah, Allah seringkali menyatakan kehendak dan kebenaran-Nya bagi kita. Dalam Efesus 5, Paulus mengajarkan hal ini “jadilah penurut-penurut Allah,” dalam hal kekudusan, kasih dan terang.

3.       Ibadah: sarana yang Tuhan pakai untuk dapat mengerti kehendak Allah.
Allah memiliki kehendak dan panggilan-panggilan yang khusus bagi setiap kita. karena itu, mengerti kehendak Allah” merupakan unsur yang penting dalam hidup kita sebagai umat Tuhan. Namun, hal ini sulit dilakukan karena kita mempunyai agenda-agenda pribadi dan akibatnya acapkali kita mengabaikan kehendak Allah.
Ibadah merupakan salah satu cara yang Tuhan pakai untuk menyatakan kehendak-Nya. Banyak orang diteguhkan setelah mengikuti ibadah, baik ibadah di gereja maupun ibadah pribadi. Pesan-pesan Tuhan yang disampaikan melalui pujian dan khotbah bisa menjadi alat di tangan Tuhan untuk menyampaikan pesan-Nya bagi kita. Karena itu, betapa pentingnya kita mempersipakan hati kita dalam setiap ibadah kita untuk mengerti kehendak Tuhan.
Karena itu, marilah kita merenungkan: apakah yang menjadi kehendak Allah bagi saya? Apakah yang Allah kehendaki untuk saya lakukan ke depan? Kiranya Tuhan menolong dan memberkati kita sekalian. Amin.


Selasa, 16 Juni 2015

Khotbah: Bertumbuh Bersama Dalam Pelayanan

Kisah Para Rasul 2: 41-47
Ringkasan Khotbah Pdt. Bambang Wijanto - Minggu, 24 Mei 2015

Dalam sebuah pelayanan, kita dapat melihat dan belajar pada pelayanan yang dilakukan oleh Jemaat mula-mula. Hal-hal yang perlu diperhatikan pelayanan adalah:

1. Sebuah pelayanan Kristen haruslah bersifat holistik. Artinya, bukan hanya sekedar
mengabarkan Injil, tetapi bagaimana Injil itu diberitakan dan menyentuh kehidupan orangorang yang dilayani.
Vishal Mangalwadi, seorang tokoh filsafat India yang mengabdikan diri pada Filsafat Kristen, seorang yang sangat pandai, dan banyak tawaran pekerjaan dari Negara Eropa dan Amerika dengan gaji yang sangat tinggi, memilih untuk kembali ke desa asalnya di India.
Vishal punya alasan yang kuat untuk hal ini. Semua itu bermula saat dia pergi ke Belanda untuk seminar dan kemudian diajak minum susu segar di sebuah peternakan. Dia sangat terkejut ternyata peternakan yang sangat besar itu bersih sekali walaupun tidak ada orang yang berjaga di situ. Dan lebih mengherankan setelah Vishal diajak untuk masuk dan minum susu yang diambil dari sebuah kran, kemudian temannya mengambil sebuah kotak yang berisi uang dan menyodorkan kepada Vishal, dan Vishal kemudian meletakkan sejumlah uang dan mengambil kembaliannya. Di tempat itu tidak ada seorang pun yang menjaga.
Sebagai seorang filsuf dia langsung berpikir ada sesuatu yang luar biasa, adanya kejujuran dan integritas membawa kesejahterahan bagi sekitarnya. Vishal berpikir, bagaimana mengentaskan kemiskinan dan mengubah kehidupan melalui sebuah integritas.Sebuah buku yang ditulis oleh Lim White Junior, yang dalam bukunya menanyakan kenapaEropa yang dulunya begitu miskin tetapi di abad 17-20 begitu maju.
Ternyata pada saat itu pendidikan di Eropa berbasis Alkitab dan mengajarkan tentang kejujuran dan integritas.Anak-anak diajarkan untuk berbagi, mengasihi,dan memiliki belas kasihan pada sesamanya serta memiliki sebuah kehidupan yang tidak berpusat untuk dirinya sendiri tapi juga bagi orang lain. Itulah yang membentuk pribadi dan karakter mereka.
Vishal kemudian kembali ke India dan mengajar masyarakat untuk menabung, hidup hemat. Dengan pengaruhnya sebagai orang Kristen dan melalui pendidikan, dia menanamkan nilai-nilai Kristen, kejujuran dan integritas kepada anak-anak.Dan hasilnya adalah desa itu menjadi desa yang makmur.Sudah ada universitas, rumah sakit,dan ada bank pasar dan derajat hidup mereka.
Pelayanan Kristen harusnya adalah sebuah pelayanan yang holistik.

2. Sebuah pelayanan harus bersifat transformatif.
DalamKis 2:47 “… Dan mereka disukai semua orang.” Kehidupan jemaat mula-mula menjadi inspirasi bagi orang lain, bahkan dirindukan oleh orang disekitarnya. Oleh sebab itu,Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan berlipat-lipat.
Kehadiran kita harus menjadi kehadiran yang berarti dan bukan kehadiran yang ditolak oleh orang lain. Seharusnya kehidupan kita menginspirasi orang lain. Kalau kehidupan kita tidak ada bedanya setelah menjadi Kristen, ya buat apa kita menyatakan diri sebagai murid Kristus. Kalau kita mengaku menjadi murid Kristus, maka kita harus meneladani Kristus.

3. Sebuah pelayanan harus membawa pertumbuhan bagi gereja.
Seluruh pelayanan gereja harus diarahkan untuk pertumbuhan jemaat. Bukan hanya pertumbuhan secara kualitas, tetapi juga pertumbuhan secara kuantitas. Bagaimana jemaat dapat bertumbuh secara kuantitas? Dalam sebuah buku “Missions Tomorrow” mengatakan demikian: orang-orang yang berhasil dalam memperluas Kekristenan tampaknya bukan mereka yang berprofesi sebagai penginjil ……. Melainkan laki-laki maupun wanita yang mempunyai pekerjaan atau mata pencaharian yang murni sekuler dan berbicara mengenai iman mereka kepada orang-orang yang dijumpainya sehari-hari.Artinya di situ ada sebuah komunitas.
Jika pelayanan gereja hanya menggantungkan kepada pendeta dan penginjil, maka gereja kita tidak akan maju. Dalam Kisah Rasul pada waktu ada pelayanan jemaat yang terlupakan, maka para rasul mengangkat 7 orang yang rohani untuk menangani masalah para janda miskin, supaya para hamba Tuhan dapat memfokuskan pada pelayanan Firman dan doa. Artinya peran jemaat sangat berpengaruh atas pertumbuhan gereja. Dengan adanya komunitas, kita bisa mendemostrasikan iman kita. Di BCS Jakarta, sekarang ada 600 anak muda. Bukan karena gerejas ebagai event organizer, bukan karena KKR, tapi karena komunitas yang bertumbuh. Ada kelompok-kelompok dengan kesamaan hobi, bukan hanya membicarakan hobi, tapi kemudian mengajak teman ke gereja, kemudian diajak untuk ikut melayani.
Jika gereja mau bertumbuh, maka jemaat memegang peranan sangat penting. Seorang teolog bernama Carl Henry mengatakan pendekatan dari pribadi ke pribadi yang diprakarsai oleh setiap orang percaya menciptakan peluang paling baik untuk memberitakan Injil ke seluruh bumi dalam abad ini. Melalui komunitas, kita bias memenangkan banyak jiwa.
Tiga pengalaman penting untuk bertumbuh menjadi orang Kristen yang matang menurut Dr. Gene Getz:
1. Mereka memerlukan ajaran Alkitab yang baik, akan member kestabilan teologis dan rohani.
2. Mereka memerlukan hubungan-hubungan yang mendalam dan memuaskan baik dengan satu sama lain maupun dengan Yesus Kristus
3. Mereka memerlukan pengalaman melihat orang banyak kepada Yesus Kristus sebagai hasil dari kesaksian korporat dan individual kepada dunia yang bukan Kristen Kalau kita mau mengukur kedewasaan rohani kita, maka tanyalah pada diri kita berapa banyakj iwa yang sudah kita bawa kepadaTuhan.

Mari di hari Pentakosta ini, kita bakar kembali semangat kita untuk memenangkan jiwa-jiwa yang ada di sekeliling kita, yang membutuhkan pertolongan Tuhan. Kiranya Tuhan Yesus memberkati.

Khotbah: Tuhan Menyertai Umat-Nya

Yohanes 14 : 6, 18, Matius1:28, 18:20, 28 : 20.
Ringkasan Khotbah Pdt. Stefanus Theofilus - Minggu, 07 Juni 2015

Perkataan Tuhan Yesus “Akulah jalan” berhubungan dengan beberapa perikop di dalam Injil yang berhubungan dengan konteks penyertaan Tuhan dalam kehidupan orang percaya. Mesias lahir untuk menyertai Umat-Nya (Mat 1:28), Tuhan Yesus menyertai para murid-murid (Mat 18:20), Yesus menyuruh murid-murid untuk pergi memberitakan Injil dan Ia akan menyertai (Mat 28:20) dan Tuhan Yesus akan mengirim penolong yang lain yaitu Roh Kudus untuk menyertai murid-murid ( Yoh 14:18 ). Tuhan Yesus menyertai dengan mengirim Roh Kudus. Oknum Roh Kudus sama secara kualitas dan derajat dengan Dia.
Lalu apa hubungan dengan Roh Kudus yang bertahta dengan penyertaan kepada orang percaya.? Secara umum manusia: Manusia memiliki keinginan yang dihubungkan dengan waktu (masa lampau, sekarang dan masa depan). Keinginan ini dikelompokkan ke dalam tiga bagian yaitu : Tahta (kuasa), Harta (uang) dan Wanita (seks). Dan tiga keinginan ini dimiliki semua manusia secara umum. Keinginan ini masuk ke dalam Hati nurani.
Apa itu Hati nurani? Dalam bahasa Yunani menggunakan kata suneidesis yang diartikan secara sederhana yaitu “Suara Allah.“ Dalam Kitab Roma, Paulus mengatakan karena suara Allah ini kita mengetahui mana yang benar dan salah, mana yang baik dan Jahat. Dalam hati kita ada Taurat Allah sehingga manusia tidak dapat berdalih bahwa dirinya bersalah. Semua manusia, tanpa terkecuali memiliki suara Allah ini. Hati nurani ini begitu indah karena melaluinya kita diajak untuk berbuat baik dan membuat hidup kita berarti. Bahkan dalam Alkitab mengatakan melalui nurani ini kita mengerti kehendak Allah.
Lalu apa hubungkan nurani dengan keinginan manusia? Nurani adalah penyaring bagi keinginan-keinginan tersebut. Keinginan (tahta, harta dan wanita) tidak berarti negatif karena ketika itu semua ada di dalam nurani, maka keinginan tersebut indah sekali. Kepala keluarga membutuhkan kuasa untuk melindungi, uang dibutuhkan manusia untuk sesuatu yang berarti dan baik, dan seks baik untuk hidup berkeluarga. Semua keinginan ini berarti ketika dimasukkan di dalam nurani.
Keinginan menjadi sesuatu yang indah, namun sayang manusia tidak mau berhenti sampai ini, ada sesuatu yang mengerikan yaitu keinginan yang berlebihan. Keinginan yang berlebihan membuat manusia menjadi serakah dan iri hati. Serakah dan iri hati membuat manusia menjadi berbahaya, kejam dan menjijikkan. Keinginan yang berlebihan membuat tahta, harta, dan wanita menjadi sesuatu yang berbahaya (negatif). Orang melakukan dan menghalalkan segala cara untuk memiliki kuasa, uang dan seks. Keinginan yang berlebihan membuat mereka menjadi pribadi yang buta dan tidak dapat terpuaskan dalam hidupnya. Kuasa, uang dan seks menjadi tujuan utama dalam hidupnya. Dalam Alkitab keinginan yang berlebihan ini disebut sebagai keinginan daging.
Keinginan yang berlebihan atau keinginan daging ini yang di dalam Alkitab disebut dosa. Dosa atau kata Yunaninya hamartia. Hamartia berarti tidak memenuhi standar dan sasaran yang diberikan Allah. Manusia meleset untuk memenuhi standar dan sasaran Allah karena mereka memiliki keinginan yang berlebihan dari yang ditentukan Allah. Kitab Ibrani mengatakan bahwa nurani mengajak kita untuk berbuat baik dan kekuatannya 100 persen, namun di satu sisi dalam kitab Roma mengatakan ada dosa yang mengajak manusia untuk berbuat dosa dan kekuatannya 100 persen. Jadi ada dua kekuatan dan keinginan di dalam diri yang baik dan jahat. Dua kekuatan ini yang membuat manusia mengalami perang batin di dalam hatinya. Perang batin antara saya dengan saya sehingga menimbulkan kekacauan dalam diri. Dan misalnya dalam peperangan itu kita melakukan dosa maka hal itu berhubungan dengan Allah. Kita tidak dapat lagi memenuhi standar dan sasaran Allah.
Kitab ibrani mengatakan ketika manusia melakukan dosa ada selaput yang menutup hati nurani kita. Kita ingin berbuat baik namun kekuatan untuk berbuat baik itu tidak kuat karena sudah ditutup oleh selaput. Jika manusia sekali berbuat dosa, maka ia akan mudah untuk melakukan dosa-dosa yang lain. Hati nurani pun terus ditutupi selaput sehingga hati nurani tidak lagi berbicara. Inilah yang terjadi kepada manusia yang terus hidup dalam dosa sehingga tidak terjadi lagi perang rohani. Dosa menjadi suatu kebiasaan dan menjadi sesuatu kenikmatan. Dosa menjadi kenikmatan karena manusia telah terikat oleh dosa itu, sehingga manusia tidak dapat untuk tidak melakukan dosa. Dosa menjadi sesuatu kebiasaan dan sesuatu mengerikan.
Lalu apa artinya Tuhan menyertai kita? Inilah yang berhubungan dengan hati nurani kita. Dia lahir di dalam hati nurani kita yang telah diselubungi oleh dosa. Yesus lahir di dalam hati nurani kita bukan karena dirinya bersih tapi karena kotor. Dari sinilah kita menemukan arti Tuhan menyertai kita dengan hati nurani kita yang terselubungi dengan dosa. Ada dua arti: pertama,pada saat kita meninggal. Pada waktu kita kita meninggal dunia, kita memiliki jaminan keselamatan bersama Allah, karena dalam perikop yang kita baca hari ini mengatakan “Akulah Jalan, kebenaran dan hidup.” Kita memiliki kepastian bahwa Yesus akan membawa manusia kepada Allah karena Dialah jalan satu- satunya, tidak ada yang lain. Kedua, pada saat kita hidup di dunia. Pada waktu kita terima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat maka darah-Nya telah menyucikan dan menghapus selaput dosa yang menutupi hati nurani kita. Darah ini membuat hati nurani kita kembali berbicara. Hati nurani kita menjadi kembali berperang secara rohani. Namun sekarang kita tidak lagi nyaman untuk melakukan dosa. Ketika kita berbuat dosa kita menjadi tersiksa. Peperangan ini disebut Yesus dalam khotbahnya bahwa hidup manusia seperti ada dua jalan yaitu lebar dan sempit. Dua jalan ini pada satu tempat yaitu dunia namun berlawanan arah. Oleh sebab itu jalan sempit dapat dikatakan sebagai jalan yang melawan arus. Orang percaya adalah orang yang melawan arus dunia yang ingin membawa manusia kepada dosa. Dunia menawarkan dosa kepada orang percaya dengan begitu kuat, mudah dan cepat (internet dan media masa). Orang percaya begitu berat untuk melawan arus ini. Orang percaya butuh kekuatan untuk melawan arus tersebut. Di sinilah peran Tuhan Yesus karena Ia jalan bukan hanya waktu kita meninggal namun Ia jalan ketika kita hidup di dalam dunia ini. Dia masuk ke dunia untuk menerobos arus dunia ini. Dia hadir untuk berperang melawan dunia ini.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Diam di dalam anugrah-Nya, tidak ada satupun yang kuat melawan arus dunia ini. Tuhan yang akan berperang bagi kita, dan Dia berkata; “Aku akan menyertai kamu.” Kita diam di dalam Dia, tidak ada cara lain. Tidak ada cara lain selain kita merenungkan Firman Tuhan dan berlutut di hadapan-Nya. Kita dapat melakukan kebaktian bersama keluarga setiap malam untuk merenungkan Firman dan berdoa kepada Tuhan. Orang percaya adalah orang yang mau diam di dalam Tuhan. Hanya anugrah dan kebaikan Tuhan yang membuat kita kuat untuk melawan dunia ini.

Selasa, 09 Juni 2015

Bertumbuh Bersama Dalam Pelayanan

Yohanes 4:1-15
Ringkasan Khotbah Ev. Yudi Jatmiko - Minggu, 31 Mei 2015

Salah satu cara terbaik untuk bertumbuh dalam pelayanan ialah dengan meneladani Tuhan Yesus dalam melayani sesama-Nya. Konteks perikop yang kita baca tadi menunjukkan bahwa Yesus dan murid-murid-Nya sedang berada di Yudea (Yoh. 3:22; 4:3). Untuk menuju Galilea, Yesus harus melintasi daerah Samaria (4:4) di mana Ia bertemu dengan seorang perempuan di kota Sikhar; perempuan Samaria dengan kebutuhan tertentu.

Pelayanan Tuhan Yesus: Memahami Kebutuhan Sesama
Untuk mengerti apa yang menjadi kebutuhan perempuan Samaria ini, kita perlu melihat lebih jauh apa saja yang menjadi masalahnya, minimal ada dua: masalah sosial (ay. 6-7) dan masalah moral atau spiritual (ay.16-18). Melalui dialog dan kehadiran-Nya (ay. 7-18), Tuhan Yesus menolong perempuan itu untuk memahami apa yang menjadi kebutuhannya yang paling dalam melalui kedua masalah di atas. Dua masalah ini tidak dialami oleh perempuan itu sesekali saja dalam hidupnya, melainkan terus-menerus. Ini dapat terlihat dari salah satu tensa Yunani yang digunakan pada ayat 15 (Present Infinitif Aktif). Gramatika Yunani di ayat tersebut mengindikasikan adanya sebuah continuous action. Dengan kata lain, perempuan itu memohon diberikan air hidup supaya ia “tidak haus terus-menerus dan tidak usaha datang dan datang lagi ke sumur itu untuk terus-menerus menimba air.”
Permintaan ini tentunya tidak lahir dari sikap yang malas tetapi dari hati yang sekian lama tertekan oleh beban sosial dan moral yang terus-menerus ditanggungnya. Ia hidup berkanjang dalam dosa. Oleh karena itu, suaranya lirih meminta kepada Yesus, “Tuhan, berikanlah aku air itu (ay.15)” dan Tuhan memenuhi kebutuhan terdalam perempuan itu.

Pelayanan Tuhan Yesus: Memenuhi Kebutuhan Sesama
Pelayanan Yesus adalah pelayanan yang memenuhi kebutuhan manusia berdosa. Menurut Yesus, kebutuhan terdalam perempuan itu hanya dapat dipenuhi oleh air hidup. Apa yang dimaksud Yesus dengan “air hidup”? Menurut bahasa aslinya, air hidup dapat juga diterjemahkan air yang mengalir untuk menunjukkan bahwa air ini bersih dan segar.
Dalam Perjanjian Lama, air hidup merupakan gambaran metafora yang merujuk kepada Diri Allah sendiri sebagai Sumber Kehidupan bagi bangsa Israel (bdk. Yer. 2:13; Za. 14:8). Artinya, hanya air hidup itulah yang dapat memuaskan kebutuhan terdalam manusia. Ini menjadi semakin jelas dalam Perjanjian Baru. Yohanes 7:37-39 menjelaskan bahwa yang dimaksud Tuhan Yesus dengan air hidup ialah Roh Kudus, Pribadi ketiga Allah Tritunggal. Ia adalah sumber kehidupan dan sumber pembaharu bagi manusia yang berdosa. Hanya Allah Roh Kudus, di dalam anugerah-Nya, yang mampu melahirbarukan perempuan yang berdosa itu dan mengubah hidupnya, dari seorang pendosa menjadi pemberita Injil bagi sesamanya (bdk. Yoh. 4:39-42).
Melalui narasi perjumpaan Tuhan Yesus dengan perempuan Samaria, kita dapat belajar bahwa melayani adalah menjawab dan memenuhi kebutuhan sesama kita. Melayani berarti menyentuh hati, menjangkau kehidupan yang terhilang dan terpinggirkan karena dosa. Melayani berarti memberi dampak bagi hidup sesama. Singkatnya, melayani adalah menghadirkan Kristus bagi sesama karena hanya Yesus di dalam kuasa Roh Kudus yang mampu memenuhi kebutuhan manusia berdosa. Inilah panggilan gereja, inilah panggilan setiap kita. Jika kita bertumbuh dalam pelayanan yang menghadirkan Tuhan Yesus, niscaya gereja menjadi berkat bagi masyarakat luas, bahkan bagi dunia.

Senin, 09 Juni 2014

Ringkasan Khotbah Pdt. Tikijo Hardjowono, "Penatalayan Yang Diperkenan Tuhan: Iman dan Uang" - Minggu, 01 Juni 2014

PENATALAYAN YANG DIPERKENAN TUHAN: IMAN dan UANG
Memahami Prinsip-prinsip Allah dalam Penatalayanan Keuangan

LUKAS 16:1-14

Ringkasan Khotbah Pdt. Tikijo Hardjowono - Minggu, 01 Juni 2014

Dalam konsep penatalayanan (1 Kor.4:1,2) kita telah belajar bahwa Tuhan adalah Sang Pemilik; sedangkan kita hanyalah penatalayan milik Tuhan. Sebagai pelayan, kita harus setia (1Kor.4:2). Saat kita setia kita akan mendapat keuntungan: kita akan bertumbuh lebih dekat dengan TUHAN, bertumbuh dalam karakter ilahi, dan kita akan memiliki stabilitas hidup yang lebih stabil, dan kelak kita akan menerima upah yang kekal di sorga.
Salah satu yang harus kita jaga sebagai penatalayan adalah harta/uang. Alkitab mencatat banyak tentang uang: lebih dari 2.350 ayat yang berurusan dengan uang; Yesus mengajar sangat banyak tentang keuangan,  16 dari 28 perumpamaan-Nya tentang uang. Yesus mengajarkan bahwa uang adalah saingan terkuat bagi Kristus untuk Ketuhanan-Nya dalam hidup kita (Luk.16:13). Dia juga mengingatkan: “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Mat.6:21)
Dalam perumpamaan tentang “bendahara yang tidak jujur” (Luk.16:1-9). Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid untuk bersikap cerdik, menggunakan uang (mamon yang tidak jujur) untuk melakukan semua yang mungkin selagi ada kesempatan untuk memuliakan Tuhan (menukar dengan harta abadi), supaya sewaktu-waktu uang tidak bisa digunakan lagi (maksudnya kita sudah mati) sudah ada bagi kita upah yang kekal di sorga.

PRINSIP KEUANGAN JOHN WESLEY
John Wesley lahir di Epworth, 17 Juni 1703, dan meninggal di London, 2 Maret 1791. Dia adalah anak pendeta yang miskin. Bersama 8 saudaranya dia mengalami masa kecil yang sangat sulit.Tetapi Tuhan memanggilnya menjadi pendeta juga. Dan berbeda dengan ayahnya dia menjadi pendeta yang cukup berada karena dia seorang yang pandai. Dia mengajar di Oxford, menjadi anggota Lincoln Collage yang terhormat, dan semuanya itu membuat dia mempunyai cukup uang untuk bersenang-senang.
Suatu kali, di hari yang bersalju Wesley membeli sebuah karya seni yang mahal dan menggantungkannya di kantornya. Baru saja dia selesai memasang karya seni itu, masuklah ibu yang bertugas membersihkan kantornya dengan kedinginan, dan dia hanya memakai pakaian katun biasa. Segera Wesley merogoh kantungnya untuk mengambil uang supaya ibu itu bisa membeli baju hangat yang selayaknya.  Tetapi Wesley sangat terkejut, dia tidak mempunyai uang yang cukup! Terlintas dipikirannya: “Kalau saat ini Tuhan memanggilku pulang ke sorga, apakah aku ini seorang hamba yang baik dan setia?”
Sejak itu, mulai tahun 1731, Wesley menghitung dengan baik kebutuhannya. Dia mendapati bahwa kebutuhan hidupnya adalah 28 poundsterling setiap tahun. Maka ketika dia menerima tunjangan 30 pound, dia persembahkan 2 pound untuk pekerjaan Tuhan. Ketika dia menerima 60 pound, dia serahkan 32 pound. Ketika dia menerima 90 pound, dia serahkan 72 pound dan seterusnya. Bagi Wesley bertambahnya berkat Tuhan berarti bertambahnya apayang bisa dia berikan untuk Tuhan. Ketika dia kemudian mendapat tunjangan lebih dari 1400 pound/tahun, dia tetap hidup dengan standart 30 pound/tahun dan memberikan hampir 1400 pound untuk pekerjaan Tuhan. Inilah ajaran tentang penatalayanan keuangan Wesley yang terkenal: “Gain all you can, Save all you can, Give all you can.”
Gain all you can (Raihlah semua yang dapat kau raih). Orang percaya harus rajin, bekerja dengan giat dan semangat untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Namun dia harus jujur dan menolak mengerjakan apa yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Sekalipun bisa disalahgunakan, uang adalah sesuatu yang berguna. “Di tangan anak-anak Tuhan itu (uang) adalah makanan bagi yang lapar, minuman bagi yang haus, pakaian bagi yang telanjang. Uang bisa memberikan tumpangan bagi pengembara, bisa menggantikan apa yang seharusnya diberikan ayah pada anak yatim, apa seharusnya diberikan suami bagi seorang janda, menjadi perlindungan bagi yang tertindas, kesembuhan bagi yang sakit, kelegaan bagi yang menderita. Itu bisa berarti mata bagi yang buta, kaki bagi yang lumpuh; ya, sebagai alat pengangkat keluar dari gerbang kematian.”
Save all you can (Tabunglah semua yang dapat kau tabung). Setelah mendapat banyak, orang percaya harus menjauhkan uangnya dari pemuasan nafsu kedagingan. Wesley punya dua alasan untuk hidup sederhana. Yang pertama supaya mereka tidak menyia-nyiakan uangnya, yang kedua supaya mereka tidak terjebak oleh nafsu. Wesley menasehati jemaat untuk menjaga anak-anak mereka juga dari pemuasan keinginan yang akan membuat anak mereka menderita.
Give all you can (Berilah semua yang dapat kau beri). Semua yang kita miliki adalah milik Tuhan, orang percaya harus memakai 100% uangnya (bukan hanya 10%) sesuai dengan kehendak Tuhan. Dan bagaimana Tuhan mengarahkan kita dalam memakai uang kita?
Wesley mengajarkan empat prinsip firman Tuhan untuk menuntun kita menjadi penatalayan keuangan yang baik bagi Tuhan: 1. Sediakan apa yang perlu bagi dirimu dan keluargamu (1 Tim. 5:8). Wesley sangat menekankan keluarga, menjagai keamanannya, termasuk menyediakan asuransi/tabungan untuk berjaga-jaga terhadap keadaan buruk yang bisa menimpa sang pencari nafkah (the breadwinner); 2. “ Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (1 Tim. 6:8). Termasuk di dalamnya rumah yang layak untuk melindungi keluarga dari hujan dan panas; 3. “Lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!” (Rom. 12:17) dan “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga” (Rom. 13:8); 4. “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Gal.6:10).
Wesley menyadari banyak situasi yang tidak sangat jelas. Bisa membingungkan dalam menerapkan keempat prinsip Firman Tuhan diatas. Dia memberikan empat pertanyaan untuk menolong kita memutuskan bagaimana membelanjakan uang: 1. Dalam membelanjakan uang, apakah saya bertindak seperti pemiliknya, ataukah saya bertindak sebagai bendahara Tuhan?; 2. Apa dasar Alkitab bagi saya untuk membelanjakan uang seperti ini?; 3. Dapatkah saya mempersembahkan barang pembelian ini sebagai korban bagi Tuhan?; 4. Apakah Tuhan akan memberiku pahala untuk pembelanjaan ini pada hari kebangkitan orang-orang benar?
Berikanlah semua yang kau punya, juga dirimu sendiri, sebagai sebuah korban rohani bagi Dia yang tidak menyayangkan Putra-Nya (untuk mati) bagimu, Anaknya yang tunggal itu. Jadi “letakkanlah bagi dirimu sendiri dasar yang baik untuk menghadapi masa yang akan datang, sehingga engkau beroleh hidup yang kekal!” (John Wesley)





Sabtu, 17 Mei 2014

Ringkasan Khotbah Pdt. Titus Liem, "Hari Ibu" - Minggu, 11 Mei 2014



HARI IBU
2 Timotius 1:1-5; 2 Timotius 3:15; Kisah Para Rasul 16:1-3

Ringkasan Khotbah Pdt. Titus Liem - Minggu, 11 Mei 2014

Dalam ibadah kita hari ini, kita memperingati Hari Ibu Internasional. Peringatan Hari Ibu ini bertujuan untuk menghargai pengabdian dan pengorbanan kaum ibu atau kaum wanita yang membawa perubahan dan dampak positif bagi dunia. Di dalam Alkitab juga ada banyak wanita yang memiliki peran-peran yang luar biasa penting bagi kelangsungan hidup manusia. Bukan saja sebagai sosok yang melahirkan, tetapi juga berperan penting dalam perkembangan spiritual manusia. Pada saat ini, kita akan bersama-sama belajar melalui kehidupan dari seorang nenek dan seorang ibu, yaitu Lois dan Eunike.

I.  Siapakah Lois dan Eunike itu? (Kis. 16:1-3):
Alkitab tidak banyak memberikan informasi tentang kehidupan mereka. Lois adalah ibu dari Eunike, dan Eunike adalah ibu dari Timotius yang tinggal di Listra atau Derbe yang bertobat karena pelayanan Paulus. Eunike memiliki suami orang Yunani (Kis. 16:1). Nama Lois dan Eunike tidak dapat dipisahkan, hal ini bukan karena semata-mata mereka adalah ibu dan anak,  tetapi juga karena iman mereka yang tulus tentang Kitab Suci dan mengajarkan firman Tuhan kepada, sehingga “dari kecil” ia telah mengenal Kitab Suci (3:15).Selain itu, mereka pun memiliki minat dan prinsip yang sama di dalam mendidik dan membesarkan Timotius. 

II. Apa yang dilakukan oleh Lois dan Eunike?
Mereka telah mendidik dan mengajar Timotius mengenal Kitab Suci sejak masa kanak-kanaknya. Itu sebabnya pengaruh pertama yang dialami Timotius adalah pengaruh asuhan orangtuanya dan terutama ibu dan neneknya (2 Tim. 1:5). Hal itu juga telah dinyatakan oleh rasul Paulus, “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepada-Mu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus” (2Tim.3:15).
Lois dan Eunike telah  menunjukkan kepada Timotius  teladan iman, melalui kehidupan mereka sehari-hari. Di balik semuanya ini, kita melihat kebesaran Tuhan dalam menciptakan seorang wanita dengan air mata, kelembutan hati, kesabaran tapi memiliki satu kekuatan yang sangat besar dalam dirinya. Sudahkah saudara memberikan teladan kerohanian yang baik bagi anak-anak saudara? Mengenalkan Tuhan kepada anak-anak membutuhkan konsistensi dan ketekunan dari orang tua melalui pengajaran dan teladan iman dari orang tua atau keluarga.
III. Apa Dampak Pengasuhan Dan Pendidikan Lois Dan Eunike?
Timotius dapat menjadi pemimpin, pekabar Injil serta pemikir Kristen adalah karena didikan yang diterimanya. Paulus bukanlah yang mengawali pendidikan Timotius, tapi dari keluarganya. Paulus menuai apa yang sudah ditabur oleh keluarga Timotius.
Apa yang telah dilakukan oleh Lois dan Eunike memiliki dampak yang luar biasa:
* Timotius menjadi seorang Kristen dan anak rohani Paulus (2 Tim.1:1).
* Paulus menyebutnya sebagai satu-satunya orang “yang sehati dan sepikir” dan yang tidak mencari kepentingannya sendiri melainkan kepentingan Kristus (Flp. 2:20).
* Timotius ikut dalam pelayanan misi Paulus yang kedua (Kis. 15:36-18:22). Ia yang masih muda belia meningggalkan Listra untuk menggantikan teman sekerja Paulus yang lama yaitu Yohanes Markus.
* Timotius sangat dihormati oleh saudara-saudaranya orang  Kristen baik di Listra maupun di Ikonium (Kis.16;2)
* Paulus meminta Timotius agar datang ke Roma untuk menghibur dia pada saat-saat akhir hidupnya. Hal ini menunjukkan kasih yang mengikat mereka berdua.
Inilah dampak pengajaran dan kesaksian Lois dan Eunike yang tulus ikhlas kepada Timotius yang akhirnya membawa berkat besar dan membawa kemuliaan nama Tuhan.  Kepada para ibu yang telah menaruh hidupnya kepada Tuhan dan mengerjakan peran dan tanggungjawabnya kepada keluarga, ia layak mendapatkan hormat dan pujian dan selamat “Hari Ibu.” Semoga Tuhan menolong dan memberi kekuatan kepada para wanita, istri dan ibu untuk dapat menjalankan panggilan Tuhan di dalam kehidupan saudara masing-masing dan melalui saudara nama Tuhan dimuliakan. Amin!