ALAMAT GEREJA

Jl. Semeru 30 | Jl. Arif Margono 18
Telp. (0341) 366099 | (0341) 361949 | Fax. (0341) 325597
Email: gkkkmalang@yahoo.com | Admin blog: gielmanogi@gmail.com


Tampilkan postingan dengan label Bina Jemaat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bina Jemaat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 September 2014

Artikel Keluarga: Ayah, Anak Laki-laki dan Arah

Ayah dan Arah
Pdt. Paul Gunadi

Ada satu pengamatan yang saya saksikan berulang kali dalam praktik konseling yang cukup menyedihkan hati, yakni anak laki-laki, yang dibesarkan dalam keluarga di mana keterlibatan ayah sangat minim, cenderung bertumbuh menjadi pemuda tanpa arah. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa ada kaitan yang erat antara keterlibatan ayah dan pertumbuhan kepribadian anak laki-laki. Saya perhatikan biasanya anak-anak seperti ini memperlihatkan beberapa ciri yang serupa misalnya, mereka memiliki banyak keraguan dan ketidakpastian dalam hidup. Mereka bersikap pasif dan menuntut orang untuk senantiasa memahami dan menyediakan kebutuhan mereka. Di dalam mengarungi kehidupan, biasanya mereka mencari-cari "sesuatu" sehingga apa pun yang mereka lakukan tidak akan mampu memberikan kepuasan yang sepenuhnya. Dengan kata lain, mereka adalah orang yang terus mencari tempat atau habitat mereka dalam hidup ini.
Semua anak-laki atau perempuan - membutuhkan ayah namun secara khusus anak laki-laki membutuhkan figur ayah untuk identifikasi. Saya jelaskan apa yang saya maksud dengan identifikasi. Pada umumnya kita menggunakan istilah identifikasi dalam pengertian bahwa kita melihat adanya persamaan antara yang dimiliki atau dialami seseorang dengan yang kita alami atau miliki. Misalnya, kita berkata bahwa kita dapat mengidentifikasi dengan perasaan seorang teman yang kehilangan pasangannya sebab kita pun pernah kehilangan pasangan kita. Namun sebenarnya Freud memperkenalkan istilah identifikasi bukan dengan pemahaman itu. Menurut Freud, identifikasi adalah menginternalisasikan kualitas yang ada pada orang lain ke dalam diri sendiri. Jadi, semakin dekat hubungan kita dengan seseorang dan semakin berpengaruh orang itu dalam hidup kita, semakin banyak sifat atau kualitasnya yang akan kita serap dan jadikan bagian diri kita.
Ayah dan ibu adalah objek identifikasi terdini dan terkuat. Mereka adalah pemasok bahan yang nantinya diinternalisasikan anak ke dalam dirinya. Semakin banyak interaksi orangtua dan anak, semakin banyak bahan dari orangtua yang akan diserap oleh anak. Bahan yang telah diserap ini kemudian menjadi bagian dari kepribadian anak itu. Sudah tentu di sini berlaku sebuah hukum alam: Bahan buruk akan masuk menjadi bagian yang buruk dari kepribadian anak sedangkan bahan baik akan masuk menjadi bagian yang baik dari kepribadian anak.
Salah satu bahan yang seharusnya diserap oleh anak ialah bahan yang berkaitan dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan. Dapat kita duga bahwa anak perempuan akan menyerap banyak dari ibu sedangkan anak laki akan menyerap dari ayah. Dari ayahlah anak laki-laki belajar menjadi seorang pria dan menjadi pria dalam kebanyakan budaya berarti menjadi seseorang yang tahu akan arah hidupnya, sebab bukankah pada akhirnya pria diharapkan mengepalai keluarganya sendiri?
Kira-kira seperti inilah prosesnya. Pada awalnya semua anak menginternalisasi dari ibu sebab ibulah yang berperan besar pada masa pertumbuhan awal. Dengan bertambahnya usia, anak laki-laki akan harus mengalihkan objek identifikasinya dari ibu ke ayah atas dasar persamaan jenis kelamin. (Sudah tentu anak perempuan tidak perlu mengubah objek identifikasinya.) Ketidakhadiran ayah dalam pertumbuhan anak laki-laki bukan saja akan menciptakan kevakuman objek identifikasi - dan inilah yang akan terus dicari oleh si anak sampai usia dewasanya - kevakuman ini juga telah menciptakan kekosongan arah hidup. Mereka tidak tahu bagaimana mengambil keputusan, tidak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan (sudah tentu mereka akan malu untuk mengakuinya), dan mereka memiliki seribu satu macam keraguan. Pada akhirnya ironi inilah yang saya lihat: Di belakang ayah-ayah yang terpuji dan terhormat terdapat anak laki-laki yang bingung dan penuh dengan ketidakpastian.
Kunci penyelesaian dari semua ini adalah keterlibatan. Saya perhatikan ada perbedaan antara ayah yang hanya berfungsi sebagai panutan peran (role-modes dan ayah yang terlibat dalam kehidupan anak laki-lakinya. Ayah yang indah tetapi tidak terlibat dalam kehidupan anak lakilakinya dapat diibaratkan seperti ikan hias di dalam akuarium - sedap dipandang namun sedikitpun tidak bersentuhan dengan kehidupan anaknya. Memang ayah yang seperti ini akan menjadi panutan peran yang positif namun masalahnya adalah, ayah ini tidak melakukan apaapa untuk menolong anak laki-lakinya menjadi seperti dirinya - mantap dan terarah - karena ia tidak cukup terlibat untuk menjadi penyedia bahan identifikasi bagi anak laki-lakinya.
Acapkali kehilangan keterlibatan ayah bukan saja menghasilkan pribadi yang terombang-ambing tanpa ayah tetapi juga menyulut kemarahan, yang biasanya muncul dalam bentuk pemberontakan atau apati. Mohon perhatikan perbandingan ini. Ada anak yang bertumbuh tanpa ayah karena ayah mereka telah meninggal dunia. Sudah tentu mereka akan mengalami kesedihan dan akan merindukan kehadiran ayah dalam hidup mereka. Namun jika situasinya adalah, mereka kehilangan ayah bukan karena kematian melainkan karena kesibukan atau kekurangpedulian, reaksi yang muncul bukan hanya rindu tetapi juga marah. Mereka marah karena mereka melihat bahwa sebenarnya ayah bisa memberikan perhatian namun tidak mau atau tidak cukup peduli. Di pihak lain, mereka merindukan ayah dan mungkin ingin menjadi seperti ayah namun tidak mampu. Alhasil, kemarahan dan kerinduan bercampur dalam diri anak menciptakan konflik internal yang tak terselesaikan.
Amsal menyajikan sebuah skenario yang indah mengenai hubungan ayah-anak dan hikmat, "Dengarkanlah hai anak-anak didikan seorang ayah dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, ... Karena ketika aku masih tinggal di rumah ayahku sebagai anak ... aku diajari ayahku, katanya kepadaku, 'Biarlah hatimu memegang perkataanku; berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup." (4:1-4)
"Diajari ayahku." Betapa indah dan akrab, namun tampaknya itulah yang sekarang telah terhilang.




Artikel Keluarga: Mengecek Kesehatan Pernikahan

Mengecek Kesehatan Pernikahan
Pdt. Paul Gunadi

Memasuki usia paro-baya ini saya semakin disadarkan akan pentingnya bertubuh sehat. Untuk itu secara rutin saya mengecek kesehatan melalui tes darah dan sebagainya. Pernikahan pun memerlukan uji kesehatan. Ada baiknya secara berkala kita memeriksa kondisi pernikahan kita dan dengan jujur melihat keadaan sesungguhnya. Ingat, pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Pada kesempatan ini saya ingin membagikan dua indikator untuk menguji kesehatan pernikahan kita.
Pertama, pernikahan yang sehat akan membuat kita menjadi individu yang lebih sehat. Saya teringat akan komentar orang tentang Warren Bennis, seorang pakar kepemimpinan di Amerika Serikat, "Bekerja dengan Warren Bennis merupakan sebuah pengalaman yang transformatif. Saudara tidak akan menjadi orang yang sama - sebelum dan sesudahnya. Sesuatu terjadi pada diri Saudara - Ia membuat orang menjadi versi baru yang lebih baik daripada sebelumnya." Pernikahan mentransformasi kita; masalahnya ialah, apakah kita menjadi orang yang lebih baik atau sebaliknya, menjadi orang yang lebih buruk, setelah menikah.
Saya menyadari ada orang yang justru bertumbuh matang karena menjalani pernikahan yang buruk. Sebetulnya, kita bertumbuh matang bukan karena pernikahan yang buruk itu. Dalam anugerah Tuhan, Ia membentuk kita menjadi individu yang tangguh agar kita kuat melewati hari-hari pernikahan kita yang menyakitkan itu. Meski buah roh seperti kesabaran dan penguasaan diri muncul di tengah pengalaman yang tidak menyenangkan itu, namun menurut saya, sesungguhnya semua perubahan karakter itu terjadi agar kita sanggup mengatasi situasi hidup yang buruk itu.
Pernikahan yang sehat menghasilkan pribadi yang sehat pula - bahkan lebih sehat dari sebelumnya - dan perubahan karakter terjadi bukanlah untuk menambah kesanggupan kita melewati situasi kehidupan yang sulit, sebagaimana yang terjadi dalam pernikahan yang buruk. Di dalam pernikahan yang buruk, kita mengalami tempaan tanpa memperoleh imbalan dari pernikahan itu sendiri. Misalnya, kita terpaksa mengalah dan menyerah karena itulah satu-satunya pilihan yang tersedia. Namun, mengalah dan menyerah tidaklah membuat kita menerima perlakuan yang membangun dari pasangan kita. Kemungkinan besar, mengalah dan menyerah hanyalah upaya untuk menyelamatkan pernikahan atau diri kita dari kehancuran yang lebih dahsyat.
Sebaliknya, di dalam pernikahan yang sehat, kita mengalami tempaan karakter disertai imbalannya. Ada waktu tertentu kita mengalah (bukan menyerah) dan sebagai imbalannya, pasangan kita memuji atau mengagumi perbuatan kita. Atau, ia malah terdorong untuk turut mengalah sehingga pada akhirnya, kerelaan untuk mengalah dan mengutamakan kepentingan bersama menjadi sesuatu yang alamiah untuk dilakukan. benar-benar sebuah imbalan yang tak ternilai! Alhasil, transformasi karakter tercipta dan kita menjadi versi yang lebih baik dari sebelumnya. Ini indikator pertama untuk mengecek apakah kita mempunyai pernikahan yang baik.
Kedua, pernikahan yang sehat adalah pernikahan yang swasembada - mendapatkan kecukupan berkat usaha sendiri. Ada satu kutipan dari Nathanael Hawthorne yang menyentuh hati saya, "Ia (she) adalah satu-satunya orang di dunia ini yang saya perlukan." Pernikahan yang sehat membuat kita menjadi orang yang berorientasi ke dalam perkawinan sendiri. Kita tidak perlu keluar mencari-cari pemenuhan kebutuhan kita sebab kita sudah dan bisa memperolehnya dari pasangan sendiri.
Sebaliknya dengan pernikahan yang buruk. Di dalam pernikahan ini kita merasakan kehampaan dan kita tidak dapat bergantung pada pasangan kita untuk memenuhi kebutuhan kita. (Bukankah acap kali dia adalah bagian atau bahkan penyebab dari kehampaan itu?) Akibatnya, kita tergoda menoleh keluar untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan kita melalui berbagai cara, dari yang relatif sehat sampai yang tidak sehat dan berdosa, seperti bekerja, kegiatan pelayanan, curhat dengan teman, berselingkuh, dan sebagainya. Itu sebabnya, saya mengamati pernikahan yang tidak sehat sangat memerlukan topangan dari orang atau unsur lain. Tanpa topangan yang lain, niscaya runtuhlah pernikahan itu.
Saya menyadari bahwa tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi oleh pasangan kita dan seyogianyalah kita bersikap realistik akan hal ini. Namun, saya berkeyakinan, dengan berjalannya waktu (Ingat, semua ini tidak terjadi dalam sekejap!), pernikahan yang sehat akan mengubah kita menjadi lebih terampil memenuhi kebutuhan pasangan kita. Dengan kata lain, semakin lama kita menikah, seharusnya semakin cekatan kita memenuhi kebutuhan masing-masing dan semakin kecil kebutuhan yang harus dipenuhi oleh unsur-unsur luar.
Saya berharap Saudara dapat memanfaatkan dua uji kesehatan ini. Duduklah bersama dan bicarakanlah dengan pasangan masing-masing. Nilai yang tinggi akan membuat kita makin bersemangat memelihara pernikahan kita. Nilai yang rendah seharusnya membuat kita prihatin dan tergerak untuk memperbaharui pernikahan kita.






Sabtu, 21 September 2013

Pembinaan - Kelompok Kecil - TIPS MENGEMBANGKAN KELOMPOK KECIL (KK)

TIPS MENGEMBANGKAN KELOMPOK KECIL (KK):

Mitos:
1. KK akan berkembang bila dipimpin oleh seorang ketua yang pintar ngomong.
2. KK akan berkembang bila dipimpin oleh seorang ketua yang berkharisma.
3. KK akan berkembang bila dipimpin oleh seorang ketua yang memiliki pengetahuan theologi yang kuat dan dalam.
3. KK akan berkembang bila dipimpin oleh seorang ketua yang telah lama menjadi orang Kristen.

Faktanya: tidaklah selalu demikian. Banyak kelompok kecil yang berkembang justru dilakukan oleh orang-orang Kristen yang biasa-biasa saja.

Jika demikian, apa yang seharusnya dilakukan oleh Ketua KK?
1. Ketua KK adalah orang yang tekun berdoa. Bukan hanya setuju bahwa doa itu baik, tapi juga menghabiskan banyak waktu dalam doa-doa mereka: misalnya, untuk mendoakan anggota kelompoknya.
2. Ketua KK adalah orang yang menyalurkan kasih Allah. Kelompok Kecil adalah kelompok yang lebih mengutamakan pada hubungan, kedekatan, dan keintiman. Itu sebabnya kasih memainkan peranan yang sangat penting dalam kelompok sel. Ketika seorang Ketua KK bisa menyalurkan kasih Allah itu kepada anggota-anggota kelompoknya, maka pertumbuhan dan multiplikasi kelompok akan terjadi.

3. Ketua KK adalah orang yang bisa menolong anggota kelompoknya untuk menemukan pelayanan mereka masing-masing. Lowongan untuk pelayanan selalu terbuka lebar, walaupun sudah ada banyak orang yang terlibat di dalamnya.  Semakin dalam anggota kita terlibat pelayanan sesungguhnya semakin dalam pula akar dan komitmen mereka dalam gereja. Dengan demikian, semakin banyak pula buah yang mereka hasilkan. 

Sabtu, 24 Agustus 2013

Katekisasi - Bab III - ALLAH DAN GEREJA

BAB   III

ALLAH DAN GEREJA

Keluaran 3:14
Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu."


1.          Bagaimana kita tahu bahwa Allah itu ada ?
Keberadaan Allah secara umum disadari oleh setiap manusia, sekalipun ada orang-orang yang tidak mengakui keberadaan Allah (atheis). Namun membuktikan "Allah tidak ada" pada kenyataannya jauh lebih sukar daripada mengaminkan keberadaan-Nya. Keberadaan Allah secara umum dapat dibuktikan melalui:
·         Hukum sebab -akibat dalam keberadaan dunia ini (cosmological argument).
·         Hukum alam dan keteraturan dunia ini (geological argument).
·         Keberadaan manusia (anthropological argument).
·         Hukum moral (moral argument).
·         Adanya konsep Allah yang universal (ontological argument).

2.         Bagaimanakah orang Kristen mengenali Allahnya ?
·           Melalui Penyataan Umum (general revelation), yaitu Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia melalui alam semesta. Dari ciptaan-Nya secara langsung kita bisa melihat dan merasakan keberadaan dan keagungan-Nya (Maz. 19:1-7). Tetapi wahyu umum ini hanya memberitahukan kepada kita akan adanya Allah, bukan pribadi Allah, kehendak-Nya, dan jalan keselamatan.
·           Melalui Penyataan Khusus (special revelation), yaitu Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia melalui Firman Tuhan/Alkitab (Maz. 19:8-14; U1.29:29) dan Yesus Kristus (Yoh. 1:18; 3:31-36). Melalui Penyataan Khusus ini kita bisa mengenal pribadi Allahkehendak Allah dan jalan keselamatan.

3.         Bagaimanakah keberadaan dan sifat Allah yang dinyatakan Alkitab ?
Kebenaran dan pribadi Allah yang sempurna tidak mungkin dapat dimengerti secara tuntas oleh akal dan keberadaan manusia yang sangat terbatas. Ada aspek tentang Allah yang tersembunyi (yang misteri), dan ada aspek yang dinyatakan (yang perlu kita ketahui sebagai umat-Nya untuk mengenal dan melakukan kehendak-Nya). Alkitab adalah satu-satunya sarana tertulis yang dipakai Allah untuk menyatakan kehendak-Nya kepada manusia (Ul. 29:29).

Keberadaan/hakekat Allah menurut Alkitab adalah :
·         Allah adalah Roh (Yoh. 4:24)
·         Allah adalah Pencipta (Kej. 1:1)
·         Allah tidak terbatas (Maz. 139)
·         Allah itu kekal (Kej. 21:33)

Sifat-sifat Allah :
a. Sifat-sifat non-moral (cf: Mazmur 139) :
·         Maha Hadir (omnipresence)
·         Maha Tahu (omniscience )
·         Maha Kuasa (omnipotence).
·         Tidak berubah.



b. Sifat-sifat moral:

Nama Allah dalam Alkitab menyatakan hubungan, sifat dan karya-Nya di tengah umat-Nya. Melalui nama, yang menunjukkan bagaimana Dia dikenali Israel, kita bisa mengenali sifat dan karya-Nya yang juga akan diberlakukan kepada kita. Beberapa Nama Allah dalam Alkitab :
·        YHWH - YEHUVAH/YAHWEH/TUHAN, nama perjanjian Allah dengan umat-Nya (Kel. 20 :2-; U1.6 :4). Dari nama ini, berkembang beberapa nama lain, yakni:
o   YEHOVAH TSEBAOTH, menunjuk kuasa-Nya atas tentara Israel malaikat-malaikat dan bintang-bintang (1 Sam. 4 : 4; Yes. 37 : 16; Maz. 80: 1,4; Maz. 89).
o   YEHOVAH RAPHA, berarti Allah yang menyembuhkan (Kel. 15:26)
o   YEHOVAH JIREH, berarti Allah yang menyediakan/mencukupi (Kej. 22:8,14)
o   YEHOVAH TSIDKENU, berarti  Allah lah keadilan kita (Yer. 23:6; 33:16)
o   YEHOVAH SHALOM, berarti  Allah sang pemberi damai (Hak. 6:24)
·         El, Elyon, Elohim, yang berarti Allah. Ini nama Allah yang umum, dipakai dalam penciptaan (Kej. 1). Dalam PB setara dengan Theos. Nama yang berkembang dari ini misalnya El-Shaddai, Allah yang Maha Kuasa (Kel.6:2) dan lain-lain.
·       Adonai (PL), Kurios (PB), sebutan yang menunjuk Allah sebagai tuan/Tuhan.
·       Pater, berarti Bapa, sebutan yang dipakai Tuhan Yesus dan diajarkan kepada umat-Nya (Mat. 6:9).

Orang Kristen percaya kepada satu Allah (Ul. 6:4). Sekalipun kita percaya bahwa keesaan Allah itu bukanlah berarti tunggal. Alkitab justru menunjukkan bahwa keberadaan Allah yang tunggal bisa bermakna jamak di dalam diri-Nya (Kej. 1:26-27; nama Elohim, dan sebagainya).

Istilah Tritunggal/Trinitas bukan menjelaskan relasi dari tiga Allah, tetapi satu Allah yang mempunyai tiga pribadi. Istilah ini dipergunakan sebagai usaha untuk menjelaskan kepenuhan dari Allah; baik dalam keesaan-Nya maupun dalam hal keragaman-Nya. Formulasi Trinitas/Tritunggal yang telah dikemukakan oleh gereja purba (Konsili Nicea, 325 M) dan Bapak-bapak gereja (Tertulianus dan Anatasius) adalah: Allah itu satu esensi dan tiga pribadi.
Istilah Trinitas/Tritunggal sendiri tidak terdapat dalam Alkitab, tetapi konsepnya dengan jelas diajarkan oleh Alkitab. Alkitab dengan tegas menyatakan keesaan Allah (Ul. 6:4), tetapi juga menyatakan dengan tegas keilahian tiga Pribadi Allah : Bapa, Putra dan Roh Kudus (Mat. 28:19). Dengan demikian, konsep Allah Tritunggal bukan karangan gereja, tapi berita Alkitab itu sendiri.
Gereja menolak ajaran bidat modalisme dan triteisme. Modalisme adalah ajaran yang menyangkali perbedaan pribadi-pribadi yang ada di dalam Allah, yang menyatakan bahwa Bapa, Putra dan Roh Kudus hanyalah merupakan tiga cara Allah dalam menyatakan diri-Nya. Sedangkan Triteisme menyatakan bahwa ada tiga keberadan yang menjadi Allah.
Setiap Pribadi dalam Trinitas mempunyai peran yang berbeda. Karya keselamatan adalah karya Allah Tritunggal; namun dalam pelaksanaannya ada peran yang berbeda yang dikerjakan oleh Bapa, Putra dan Roh Kudus. Bapa memprakasai penciptaan dan penebusan; Anak melaksanakan karya penebusan; dan Roh Kudus melahirbarukan dan menguduskan dalam rangka mengaplikasikan penebusan pada orang-orang percaya.
Doktrin Tritunggal ini tidak secara lengkap menjelaskan karakter dan keberadaan Allah yang bersifat misteri; tetapi inilah kenyataan yang diajarkan Alkitab yang harus kita terima dengan iman dan menjadi batasan cara beipikir kita tentang ketuhanan.

7.         Dapatkah kita membuktikan ketritunggalan Allah di luar Alkitab?
Tidak! Sebab tidak ada ciptaan apapun yang dapat menggambarkan penciptanya secara tepat. Memang ada gambaran-gambaran dari keadaan alam dan manusia yang memungkinkan kita untuk dapat mengerti dan menerima keberadaan itu. Namun harus tetap diingat bahwa semua penggambaran itu tidak mungkin menggambarkan keberadaan sesungguhnya dari ketritunggalan Allah. Yang bisa kita amati dan terima sangat terbatas, sedangkan Allah adalah Roh yang kekal dan yang tidak terbatas keberadaannya.

Doktrin tritunggal merupakan pengajaran yang penting bagi gereja tentang keberadaan Allah yang menjadi penentu keberadaan gereja di muka bumi ini. Dengan kebenaran ini, kita yakin bahwa:
·         Yang menebus dan menyelamatkan orang percaya adalah Allah sendiri, sehingga penebusan itu mempunyai aspek kekekalan dan kesempumaan yang mutlak.
·         Yang memimpin dan menyertai gereja adalah Allah sendiri, sehingga tidak ada apapun yang bisa terjadi pada gereja yang di luar kontrol dan kehendak Allah yang sempurna.
·         Yang mempersatukan gereja adalah Allah sendiri, sehingga dalam iman kita percaya bahwa segala perbedaan yang ada dalam gereja hari ini (yang masih sesuai dengan ajaran Firman Tuhan) tidak menceraiberaikan persaudaraan kita dalam Kristus Yesus.
·         Alkitab dan ajaran gereja dijagai oleh Allah sendiri sampai pada akhir zaman.
·         Pelayanan dan doa gereja serta orang percaya secara pribadi akan di tuntun, disempumakan dan diteguhkan oleh Allah sendiri.
Di akhir zaman Allah sendiri yang akan menghakimi kita.

Rabu, 14 Agustus 2013

Katekisasi - Bab II - Alkitab

BAB  II

ALKITAB


2 Timotius 3:16
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.


1.          Alkitab, darimana asalnya ?
Alkitab adalah wahyu Allah kepada manusia. Alkitab diilhamkan oleh Allah kepada para penulis Alkitab (II Tim. 3:16; II Pet. 1:21), dan karena itu, harus dibaca dan dimengerti dengan pertolongan Roh Allah (II Pet. 1:20).
Melalui Alkitab, Allah mau manusia mengenal pribadi-Nya, perbuatan-Nya , rencana-Nya dan kehendak-Nya yang la nyatakan. Alkitab bukan menjelaskan segala sesuatu tentang Allah – sebab Allah itu tak terbatas dan tidak mungkin dijelaskan dengan tulisan dan bahasa manusia yang terbatas – tetapi Alkitab memberitahukan segala sesuatu yang kita perlu ketahui tentang Allah supaya kita boleh bersekutu dan mentaati-Nya (Ul. 29:29).
Sekalipun Alkitab ditulis dalam masa lebih kurang 1600 tahun — dari Musa yang menulis kitab Kejadian (± 1450 SM ) sampai Yohanes menulis kitab Wahyu (± 95 M ); oleh lebih kurang 40 penulis yang terdiri dari berbagai latar belakang (raja, jendral, ahli hukum, dokter, gembala, petani, nelayan, pendeta, imam, pemungut cukai; ada yang kaya dan ada yang miskin) — namun Alkitab adalah satu kesatuan dalam satu kitab, dengan satu berita: keselamatan yang dari Allah, karena pengarangnya adalah satu: Allah sendiri.

2.         Bagaimana Alkitab di tulis dan dibukukan ?
Alkitab bukan dinyatakan Allah dengan didikte (Penglihatan Mekanik). Alkitab juga bukan kumpulan kesaksian yang dikarang manusia dari hasil perjumpaannya dengan Allah (Pengilhaman Dialektik). Tetapi Allah mengilhamkan Alkitab kepada orang-orang yang dipilih-Nya dengan perantaraan Roh Kudus yang diberikan berita itu sebagai bagian yang integral dalam diri penulis (Pengilhaman Dinamik) dengan cara:
·           Roh Kudus mempersiapkan keberadaan penulis itu.
·           Roh Kudus memperlengkapi penulis itu dengan segala pengalaman dan pengetahuan yang dibutuhkannya.
·           Roh Kudus memberikan berita yang akan ditulisnya; baik secara langsung maupun melalui pengalaman yang dialami penulis.
·           Roh Kudus menentukan dan mengontrol penulis dan tulisannya secara aktif.
Setelah semua Alkitab ditulis, pada ± tahun 300M, Alkitab dikanonisasi oleh Gereja. Kanon artinya : garis pengukur (Yeh. 40:3; 42:16; Wah. 11:1). Ditetapkan 66 kitab yang sampai sekarang diterima oleh gereja-gereja di segala abad. Masih ada lagi naskah-naskah yang disebut Apokripha PL (15 jilid, Pseudopigrapha PL (18 jilid), Apokripha PB (11 jilid), dan Pseudopigrapha PB (45 jilid) yang semuanya itu tidak diterima oleh gereja Kristen Protestan sebagai Firman Tuhan yang murni.

3.         Apakah seluruh Alkitab adalah Firman Tuhan atau hanya sebagian ?
Paling tidak ada dua pendapat yang salah tentang hal ini: pertama, yang menyatakan bahwa Alkitab "berisi Firman Tuhan;" dan yang kedua menyatakan bahwa Alkitab "bukan Firman Tuhan, melainkan buku catatan tentang Tuhan." Tetapi dari pengilhamannya, isinya, kesaksian penulisnya bahkan Tuhan Yesus sendiri, nyatalah bahwa Alkitab "adalah Firman Tuhan". Seluruh bagian Alkitab adalah Firman Tuhan.
·         Kesaksian Paulus: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2 Timotius 3:16)
·         Kesaksian Petrus: “sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.” (2 Petrus 1:21)
·         Kesaksian Tuhan Yesus: “Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” (Matius 5:18)

4.      Apakah Alkitab kita tidak ada kesalahan?
Karena kita percaya bahwa Alkitab itu adalah Firman Tuhan, maka kita percaya bahwa Alkitab itu (dalam versi yang aslinya, bukan salinan dan terjemahan) tidak ada kesalahan (inerensi) dan mutlak benar (infallibility).
Bagaimana dengan salinan dan terjemahannya? Kita percaya bahwa Allah Yang Maha Kuasa sanggup menjaga ketetapan dan kebenaran Firman-Nya sehingga tidak berubah oleh kelemahan manusia. Sejarah dan penemuan naskah-naskah kuno membuktikan kuasa Allah untuk menjaga Firman-Nya ini. Akan tetapi, kita harus mengakui ada keterbatasan dalam penerjemahan, karena ada beberapa hal yang sulit untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan juga bahasa-bahasa lainnya.

5.       Apakah isi Alkitab?
Alkitab kita terdiri dari 66 kitab, yang terbagi menjadi dua bagian: Perjanjian Lama (39 kitab) dan Perjanjian Baru (27 kitab). Untuk PL, terdiri dari 929 pasal; 23,144 ayat; sedangkan untuk PB, terdiri dari 260 pasal; 7.957 ayat. Dengan demikian, seluruh Alkitab terdiri dari 1.189 pasal; 31.101 ayat.

a.         Perjanjian Lama, terdiri dari lima bagian:
·      Kitab Hukum              : Kejadian; Keluaran; lmamat; Bilangan; Ulangan.
·      Kitab Sejarah              : Yosua; Hakim-hakim; Rut; I dan II Samuel; I dan II Raja-raja; I dan II Tawarikh; Ezra; Nehemia; Ester.
·      Kitab Syair                   : Ayub; Mazmur; Amsal; Pengkotbah; Kidung Agung.
·      Kitab Nabi Besar       : Yesaya; Yeremia; Ratapan; Yehezkiel; Daniel.
·      Kitab Nabi Kecil         : Hosea; Yoel; Amos; Obaja; Yunus; Mikha; Nahum; Zefanya; Hagai; Zakharia;  Maleakhi.

b.      Perjanjian Baru, terdiri dan lima bagian:
·      Kital Injil                         : Matius; Markus; Lukas; Yohanes.
·      Kitab Sejarah               : Kisah Para Rasul; (berdirinya gereja)
·      Surat-surat Paulus  : Roma; I dan II Korintus; Galatia; Efesus; Filipi; Kolose; I dan II Tesanolika; I dan II Timotius; Titus; Filemon.
·      Surat-surat Umum    : lbrani; Yakobus; I dan II Petrus; I, II dan III Yohanes; Yudas.
·      Kitab Nubuat               : Wahyu (kejadian yang belum terjadi)

Seluruh kitab-kitab tersebut di atas secara garis besar mewahyukan :
a.       Karakter Tuhan yang Maha Esa yang Hidup dan yang Kekal.
b.      Keharmonisan dan kesetaraan antara Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus.
c.       Kehendak Allah dan hubungan Allah dengan manusia.
d.      Tujuan dan kewajiban hidup bagi manusia.
e.      Rencana keselamatan Allah bagi manusia yang telah jatuh dalam dosa.
f.        Karena ciptaan Allah di dalam Kristus.
g.      Keadaan dunia rohani yang kekal.

Berita utama Alkitab:
Keselamatan yang datang dari Allah melalui Mesias, yaitu Yesus Kristus.

6.      Apakah arti/fungsi Alkitab dalam kehidupan orang percaya dan gereja?
“… engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Tim. 3:15-17).

7.       Bagaimana saya membaca Alkitab?
Banyak metode untuk membaca Alkitab, secara garis besar adalah sebagai berikut (berdasarkan Pedoman Membaca Alkitab LAI – Lembaga Alkitab Indonesia)
·           Berdoalah sebelum membacanya. Mohon pimpinan Roh Tuhan, sebab pengertian akan kebenaran itu datangnya dari Tuhan.
·           Bacalah satu bagian yang utuh dari Alkitab.
·           Bacalah beberapa kali.
·           Renungkanlah bacaan itu. Coba jawab pertanyaan ini:
v Apakah yang saya ketahuai tentang Tuhan? (misal: Tuhan itu adil; Tuhan itu pengasih dan penyayang; dsb.)
v Janji, teguran, penghiburan atau perintah apakah yang saya dapatkan? (misalnya: 10 hukum; hidup dalam kekudusan; hati yang berbelas kasihan; dsb.)
v Hal-hal apa yang harus saya lakkukan? Hal-hal apa yang tidak boleh saya lakukan?
v Tandailah ayat yang berkesan. Jika memungkinkan dihafal.
• Berdoalah kembali mohon Tuhan menuntun kita bukan hanya menjadi pendengar Firman tetapi agar kita menjadi pelaku Firman-Nya.

Orang yang meremehkan ajaran Tuhan, mencelakakan dirinya;
Orang yang taat kepada hukum Allah akan mendapal upahnya.
(Amsal 13:13, BIS)