ALAMAT GEREJA

Jl. Semeru 30 | Jl. Arif Margono 18
Telp. (0341) 366099 | (0341) 361949 | Fax. (0341) 325597
Email: gkkkmalang@yahoo.com | Admin blog: gielmanogi@gmail.com


Sabtu, 22 Februari 2014

Ringkasan Khotbah Pdt. Stefanus Theofilus: Keluarga Kristen (Minggu, 16 Februari 2014)

KELUARGA KRISTEN
Matius 11 : 28 - 30

Ringkasan Khotbah Pdt. Stefanus Theophilus - Minggu, 16  Februari 2014

Banyak anak yang pada masa kecilnya begitu setia ke gereja dan rajin berbakti kepada Tuhan, namun ketika menginjak usia remaja atau dewasa, tidak jarang di antara mereka akhirnya meninggalkan Tuhan. Beberapa di antara mereka ada yang berusaha menyakiti hati Tuhan dengan perbuatan-perbuatan doasa mereka. Hal ini menimbulkan pertanyaan: mengapa mereka bisa hilang?
Kekristenan seringkali diajarkan sebagai aturan-aturan atau hukum saja, hukum yang selalu ada konsekuansinya. Kalau seseorang bisa melakukan hukum tersebut maka ia akan memperoleh pahala, tetapi kalau tidak mampu melakukannya maka ia akan mendapatkan hukuman. Dengan konsep ini orang berjuang untuk mentaatinya dan akhirnya mereka yang gagal untuk mentaatinya justru menjadi frustasi karena tidak mampu mentaatinya.  Paulus dengan jujur mengatakan bahwa melakukan dosa bukan karena tidak tahu dosa tapi karena tidak mampu mengatasinya (lih. Rm. 7). Untuk memaklumkan segala perbuatan dosanya biasanya manusia mempunyai alasan pertama, semua orang berdosa; dan yang kedua, siapa sih orang yang baik? Memang alasan ini sementara membuat manusia merasa nyaman, namun di balik itu sebenarnya manusia tetap putus asa.
Injil Matius mengawali tulisannya tentang kelahiran Tuhan Yesus, dan di sana dikatakan oleh malaikat bahwan bayi yang akan lahir adalah Juru Selamat yang akan menyertai manusia. Kemudian, di akhir tulisan Matius, ia menulis perkataan Tuhan Yesus ketika akan mengutus murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil, “Aku akan menyertai kamu sampai selama-lamanya”.  Yang menarik di dalam Injil Matius ini adalah bahwa tepat di tengah-tengah Injil Matius ini Tuhan mengatakan bahwa “di mana dua atau tiga orang berkumpul maka aku akan menyertai kamu” (lih. pasal 18). Ini berarti bahwa seluruh Injil Matius menyatakan bahwa Allah akan menyertai .
Dalam konteks “Tuhan Yesus menyertai” inilah maka Tuhan Yesus mengatakan “pikullah kuk.” Kuk adalah sebuah bambu yang melengkung seperti gunung yang biasa digunakan untuk sarana belajar sapi muda kepada sapi tua. Karena satu kuk, maka sapi muda mau tidak mau harus mengikuti sapi yang lebih tua. Dalam perumpamaan ini berarti bahwa kita harus belajar pengalaman hidup bersama dengan Tuhan Yesus.  Dalam hubunganya dengan keluarga maka seluruh anggota keluarga harus memiliki pengalaman dengan Allah. Untuk memiliki pengalaman dengan Allah maka ada beberapa hal yang harus dilakukan:

1. Mengambil satu waktu dengan Tuhan bersama-sama dalam keluarga (Family Altar). Tiap anggota keluarga harus mengalami Tuhan. Kalau keluarga mengalami Tuhan tidak menjamin bahwa tiap-tiap anggota mengalami Tuhan. Tetapi kalau tiap-tiap anggota mengalami Tuhan maka seluruh keluarga akan menikmati-Nya.

2. Tiap anggota keluarga harus berani berperan seperti Tuhan Yesus. Pada waktu Tuhan Yesus hidup di dunia ini, Ia berperan  bagi dunia ini. Tuhan menjadi serupa dengan manusia. Tuhan Yesus tidak ingin ada jarak atau pemisah antara dirinya dengan manusia. Kalau Tuhan Yesus tidak mau menjadi manusia maka manusia tidak akan pernah mengenal Allah. Demikan juga dalam hubungan dengan kelurga,tiap anggota keluarga harus belajar mengerti pikiran dan perasaan anggota keluarga yang lainnya. Mereka harus saling melayani. Orang tua seringkali mengajarkan Alkitab kepada anak-anak dengan mengabaikan perasaan mereka. Tidak heran hal ini justru membuat anak-anak tidak tertarik dengan Alkitab bahkan menolaknya. Tetapi pada saat orang tua mengerti perasaan anak maka pada saat itulah justru anak akan mengalami jamahan Tuhan. Sudahkah kita memasuki pikiran dan perasaan anak-anak?
Ingatlah bahwa Tuhan menciptakan manusia karena Allah ingin menikmati manusia dengan keluarganya. Keluarga Kristen akan menjadi indah jika bisa dinikmati oleh Allah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar