KELUARGA
KRISTEN
Matius 11 : 28
- 30
Ringkasan Khotbah
Pdt. Stefanus Theophilus - Minggu, 16
Februari 2014
Banyak anak yang pada masa kecilnya
begitu setia ke gereja dan rajin berbakti kepada Tuhan, namun ketika menginjak
usia remaja atau dewasa, tidak jarang di antara mereka akhirnya meninggalkan
Tuhan. Beberapa di antara mereka ada yang berusaha menyakiti hati Tuhan dengan
perbuatan-perbuatan doasa mereka. Hal ini menimbulkan pertanyaan: mengapa
mereka bisa hilang?
Kekristenan seringkali diajarkan
sebagai aturan-aturan atau hukum saja, hukum yang selalu ada konsekuansinya.
Kalau seseorang bisa melakukan hukum tersebut maka ia akan memperoleh pahala,
tetapi kalau tidak mampu melakukannya maka ia akan mendapatkan hukuman. Dengan
konsep ini orang berjuang untuk mentaatinya dan akhirnya mereka yang gagal
untuk mentaatinya justru menjadi frustasi karena tidak mampu mentaatinya. Paulus dengan jujur mengatakan bahwa
melakukan dosa bukan karena tidak tahu dosa tapi karena tidak mampu
mengatasinya (lih. Rm. 7). Untuk memaklumkan segala perbuatan dosanya biasanya
manusia mempunyai alasan pertama, semua orang berdosa; dan yang
kedua, siapa sih orang yang baik? Memang alasan ini sementara
membuat manusia merasa nyaman, namun di balik itu sebenarnya manusia tetap
putus asa.
Injil Matius mengawali tulisannya
tentang kelahiran Tuhan Yesus, dan di sana dikatakan oleh malaikat bahwan bayi
yang akan lahir adalah Juru Selamat yang akan menyertai manusia. Kemudian, di
akhir tulisan Matius, ia menulis perkataan Tuhan Yesus ketika akan mengutus
murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil, “Aku akan menyertai kamu sampai
selama-lamanya”. Yang menarik di dalam
Injil Matius ini adalah bahwa tepat di tengah-tengah Injil Matius ini Tuhan
mengatakan bahwa “di mana dua atau tiga orang berkumpul maka aku akan menyertai
kamu” (lih. pasal 18). Ini berarti bahwa seluruh Injil Matius menyatakan bahwa
Allah akan menyertai .
Dalam konteks “Tuhan Yesus menyertai”
inilah maka Tuhan Yesus mengatakan “pikullah kuk.” Kuk adalah sebuah
bambu yang melengkung seperti gunung yang biasa digunakan untuk sarana belajar
sapi muda kepada sapi tua. Karena satu kuk, maka sapi muda mau tidak mau harus
mengikuti sapi yang lebih tua. Dalam perumpamaan ini berarti bahwa kita harus
belajar pengalaman hidup bersama dengan Tuhan Yesus. Dalam hubunganya dengan keluarga maka seluruh
anggota keluarga harus memiliki pengalaman dengan Allah. Untuk memiliki
pengalaman dengan Allah maka ada beberapa hal yang harus dilakukan:
1. Mengambil satu waktu dengan Tuhan
bersama-sama dalam keluarga (Family Altar). Tiap anggota keluarga harus mengalami
Tuhan. Kalau keluarga mengalami Tuhan tidak menjamin bahwa tiap-tiap
anggota mengalami Tuhan. Tetapi kalau tiap-tiap anggota mengalami Tuhan
maka seluruh keluarga akan menikmati-Nya.
2. Tiap anggota keluarga harus berani berperan
seperti Tuhan Yesus. Pada waktu Tuhan Yesus hidup di dunia ini, Ia
berperan bagi dunia ini. Tuhan menjadi
serupa dengan manusia. Tuhan Yesus tidak ingin ada jarak atau pemisah antara
dirinya dengan manusia. Kalau Tuhan Yesus tidak mau menjadi manusia maka manusia
tidak akan pernah mengenal Allah. Demikan juga dalam hubungan dengan
kelurga,tiap anggota keluarga harus belajar mengerti pikiran dan perasaan
anggota keluarga yang lainnya. Mereka harus saling melayani. Orang tua
seringkali mengajarkan Alkitab kepada anak-anak dengan mengabaikan perasaan
mereka. Tidak heran hal ini justru membuat anak-anak tidak tertarik dengan
Alkitab bahkan menolaknya. Tetapi pada saat orang tua mengerti perasaan anak
maka pada saat itulah justru anak akan mengalami jamahan Tuhan. Sudahkah kita
memasuki pikiran dan perasaan anak-anak?
Ingatlah bahwa Tuhan menciptakan
manusia karena Allah ingin menikmati manusia dengan keluarganya. Keluarga
Kristen akan menjadi indah jika bisa dinikmati oleh Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar